“Self Love” Saja Tidak Cukup untuk Bahagia! Gen-Z Perlu Menumbuhkan “Self-Compassion” Dalam Dirinya

- Penulis

Sabtu, 21 Februari 2026 - 10:06 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hesdo Celvin Naraha. Foto: Dok.pribadi untuk Headlinetimur.com

Hesdo Celvin Naraha. Foto: Dok.pribadi untuk Headlinetimur.com

Oleh: Hesdo Celvin Naraha, S.Psi

(Penulis, Asisten Peneliti, dan Pemerhati Remaja)

Mencapai kehidupan yang bahagia atau sejahtera merupakan dambaan semua orang, karena bahagia menjadi aspek penting dalam membentuk kesehatan mental maupun fisik, maka kebahagiaan sering kali menjadi indikator dalam menilai kualitas hidup individu maupun masyarakat secara komunal.

ADVERTISEMENT

ads. Ukuran gambar 480px x 600px

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada dua momentum penting (Natal Nasional – Jakarta, 5/1/2026 dan World Economic Forum – Davos, 22/1/2026) Presiden Prabowo Subianto dengan bangga menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi di dunia.

Belakangan setelah pernyataan itu disampaikan, munculah reaksi masyarakat Indonesia terhadap pernyataan Presiden yang dinilai tidak sesuai dengan realitas hidup sehari-hari. Namun jika ditelaah dengan lebih mendalam, maka kita akan menemukan bahwa pernyataan Presiden Prabowo sebenarnya tidak sepenuhnya tepat.

Berdasarkan fakta, pernyataan bahwa Indonesia merupakan negara yang bahagia berangkat dari hasil studi The Global Flourishing Study (GFS) tahun 2025, sebuah riset global yang mengukur tingkat ‘Flourishing’ atau gambaran kualitas hidup manusia berdasarkan enam dimensi. Kebahagiaan merupakan salah satu dimensi yang diukur dalam survei tersebut, dengan pertanyaan yang diajukan:

“Secara umum, apakah Anda biasanya merasa bahagia atau tidak bahagia?” Hasilnya justru memaparkan bahwa skor dimensi kebahagiaan masyarakat Indonesia justru mendekati angka (-1) yang berarti mayoritas masyarakat Indonesia sebenarnya merasa tidak bahagia (GFS, 2025).

Apabila dicermati dengan baik, narasi bahwa hidup bahagia sebenarnya punya dampak yang sangat signifikan terhadap masyarakat berciri kebudayaan kolektif seperti Indonesia. Salah satu dampak yang sangat terasa ialah reframing atau pembentukan kembali makna hidup yang sejahtera dalam masyarakat itu sendiri, sehingga kebahagiaan dipandang tidak sebatas nilai saja.

Lebih daripada itu, kebahagiaan justru akan dimaknai sebagai suatu tujuan hidup yang mestinya diraih, dicapai, diupayakan, dan seolah-olah menjadi sangat krusial daripada hal-hal lainnya. Realitas mengejar kebahagiaan umumnya dapat dijumpai pada Gen-Z, sudah menjadi rahasia umum bahwa Gen-Z memiliki kecenderungan untuk menciptakan kebahagiaan sebagai tujuan dalam hidupnya.

Menariknya hasil survei The Global Flourishing Study menemukan bahwa tingkat kualitas hidup pada masyarakat Indonesia mengalami peningkatan pada periode usia (30 – sebelum 50 tahun), yang mana merupakan gambaran usia produktif.

Namun perlu disadari bahwa kebahagiaan bukan komplementer, perasaan bahagia merupakan salah satu emosi dasar manusia yang tidak perlu dijadikan sebuah tujuan. Sebagaimana diungkapkan oleh filosof Aristoteles “Kebahagiaan bukanlah tujuan utama dalam hidup, kita hanya perlu menjalani hidup dengan lebih bijaksana, maka kebahagiaan akan tumbuh dengan sendirinya.”

Ungkapan bahwa bahagia saja tidak cukup, rasanya terlalu kontradiktif bagi masyarakat modern hari-hari ini. Sebagaimana yang kita ketahui jika begitu banyak orang berpegang pada keyakinan kolektif bahwa mereka harus mencapai bahagia dalam hidupnya, dampaknya siapa saja bergerak kesana-kemari hanya untuk mencapai bahagia.

Padahal bahagia tidak pernah dijual, apalagi dibuat-buat, kebahagiaan yang sejati justru tumbuh dalam jiwa manusia ketika mereka benar-benar bertindak penuh kasih atas dirinya sendiri. Hal ini menjadi suatu ironi karena banyak Gen-Z yang kerap menampilkan momen bahagia di media sosialnya, namun yang tampak seringnya berbeda dengan kenyataan sebenarnya.

Sebuah studi oleh McKinsey Health Institute melaporkan bahwa (35%) dari 42.000 Gen-Z memiliki aktivitas bermedia sosial yang tinggi, rata-rata mereka menghabiskan dua jam per hari untuk bermedia sosial (Salam, 2023).

Hal ini tentunya sejalan dengan kecenderungan ingin menampilkan apa saja di media sosial sebagai bentuk ekspresi bahagia, tetapi kenyataannya tindakan itu lahir atas dorongan untuk mendapat pujian dari orang lain.

Gen-Z merupakan kelompok generasi muda yang begitu fasih dengan perangkat teknologi, itulah sebabnya Gen-Z juga dikenal sebagai digital native sebab sejak periode awal kelahirannya pada tahun 1997 – 2000 an awal, Gen-Z sudah berjumpa dengan perangkat teknologi yang relatif maju.

Hal ini menjadi suatu penanda bahwa kebergantungan Gen-Z dengan teknologi dan teknologi digital adalah pengaruh yang historis, sebab hal ini merupakan suatu relasi jangka panjang.

Namun di lain sisi, ketergantungan pada teknologi digital dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan mental Gen-Z, terlebih pada individu yang memiliki kecenderungan untuk terus terhubung di dunia maya/siber; seperti halnya menggunakan media sosial secara tak terkontrol.

Sebuah riset pada American Journal of Economic and Management Business tahun 2025, menemukan bahwa sebanyak (64.6%) Gen-Z berusia remaja di Indonesia memiliki kecenderungan Fear of Missing Out (FoMO). Kondisi ini terjadi karena adanya keyakinan bahwa individu akan terus memperoleh informasi penting, berita terkini, dst sehingga dampaknya perilaku menggunakan media sosial menjadi tidak terkendali.

Hal ini dapat dilihat pada tendensi FoMO yang semakin menguat dari waktu ke waktu, sebab tanpa disadari telah terjadinya keterikatan emosional dengan media sosial itu sendiri. Sebagaimana temuan McKinsey Health Institute menjelaskan bahwa Gen-Z yang aktif bermedia sosial tidak hanya mengalami FoMO, mereka juga memiliki potensi mengalami gangguan kesehatan mental akibat paparan negatif media sosial.

Melalui perspektif Gender dijelaskan bahwa Gen-Z perempuan lebih rentan mengalami masalah kesehatan mental, karena mereka cenderung merasa tidak puas dengan dirinya sendiri, dan kerap membandingkan dirinya dengan berbagai gambaran ideal yang ada di media sosial.

PELARIAN GEN-Z DAN USAHA BAHAGIA YANG SIA-SIA

Gen-Z selalu memiliki banyak cara untuk memenuhi kebutuhannya akan kebahagiaan, ada yang memperolehnya melalui makanan enak, minum kopi, membaca buku, berjumpa sahabat, hingga aktivitas fisik ke alam bebas seperti mendaki, menyelam, olahraga dan lain-lain.

Namun benarkah setiap usaha mencapai bahagia akan benar-benar membawa Gen-Z pada kebahagiaan yang total? Mencapai bahagia sejatinya tidak memiliki ukuran tertentu, namun perlu diketahui bahwa upaya untuk mencapainya tidak dapat diukur dengan hal-hal yang disebut sebagai ‘self-love’.

Seringkali, Gen-Z melabeli tindakan dalam mewujudkan kebahagiaan sebagai suatu ekspresi cinta atau sayang terhadap dirinya, belakangan kondisi ini disebut sebagai self-love.

Menariknya setiap upaya yang dimaknai sebagai self-love sebenarnya tidak menjamin adanya pengaruh yang signifikan terhadap kebahagiaan. Bisa dikemukakan bahwa self-love hanyalah keyakinan akan tindakan mencintai diri, namun kenyataannya setiap tindakan tersebut justru bersifat sementara—sebuah usaha mencapai bahagia yang sia-sia.

Baca Juga :  Ganti Untung, Bukan Ganti Rugi: Martabat Warga Lermatang di Pusaran Blok Masela

Pandangan ini lahir dari sebuah kesadaran kritis terhadap istilah self-love itu sendiri, kira-kira di tahun 2019 seorang mahasiswa Psikologi (suatu kampus Negeri di Bandung) menuliskan pandangannya di Instagram: “Jangan pakai istilah self-love, itu tidak pernah ada penjelasannya, yang tepat pakailah self-compassion”.

Semula hal ini tidak begitu menarik untuk dikonfirmasi, namun ketika saya dan teman-teman peneliti melakukan riset di tahun 2024 mengenai self-compassion, maka saya pun sadar betapa hal ini sangat penting.

*Sebagai catatan penting: Perlu dipahami bahwa istilah self-love masih jarang digunakan dalam konteks riset maupun intervensi psikologis di Indonesia jika dibandingkan dengan istilah self-compassion. Riset terbaru pada Jurnal Internasional The Humanistic Psychologist oleh (Henschke & Sedlmeier, 2023) telah mencoba untuk mendefinisikan kembali makna self-love dan mengembangkannya sebagai suatu konsep psikologis yang komprehensif.

Selain itu, tulisan oleh Chris Tompkins di Psychology Today (18/1/2023) juga menegaskan bahwa di masa depan self-love dapat menjadi alternatif yang baik bagi upaya pemulihan generasi muda. Kedua fakta ini tentu memberikan posisi penting terhadap pemaknaan akan self-love itu sendiri, namun dalam tulisan ini berfokus memotret kesalahpahaman secara konseptual pada Gen-Z; yang mana self-love seolah-olah perlu untuk dikejar demi mencapai hidup yang bahagia.

Istilah self-love barangkali secara eksplisit merujuk pada sejumlah tindakan sederhana yang dipercaya merupakan wujud ekspresi cinta terhadap diri sendiri. Namun seringnya berbagai tindakan yang dilakukan sangatlah terbatas, dan hanya memberikan efek perasaan bahagia yang begitu sementara. Tentu inilah kritik yang perlu untuk dipahami oleh Gen-Z bahwa self-love begitu mudah diperoleh namun sangat ringkih dan rapuh, bayangkan kondisi berikut ini:

‘Seorang mahasiswa bernama Florian, sejak lama ingin mencoba belajar di Kafe seperti kebanyakan mahasiswa masa kini. Kali pertama dia mencoba, Florian memesan segelas Americano dengan permintaan double shot espresso, hal ini dilakukannya karena pengaruh beberapa teman-teman yang kerap bercerita. Semula suasana baru terasa begitu menyenangkan, segelas kopi pun begitu menyegarkan pikiran dan memberikan energi baru. Florian merasa bahagia, baginya inilah suasana belajar yang produktif dan menyenangkan. Namun tidak berselang lama, lambungnya mulai bereaksi hebat, tubuhnya gemetar, kepalanya terasa pusing, dan keringat dingin pun menjalar sekujur tubuh. Rupanya pilihan segelas Americano dengan double shot espresso adalah petaka, lambungnya belum terbiasa dengan kafein dosis tinggi. Seketika saja hati yang bahagia dan pikiran yang tenang itu lenyap, situasi berubah menjadi pengalaman tidak menyenangkan.’

Demikianlah kenyataan bahwa hal-hal yang dianggap sebagai self-love seperti minum kopi bukanlah sesuatu yang total, tindakan itu begitu sementara dan sungguh rapuh untuk segera berlalu begitu saja. Oleh karena itu Gen-Z seharusnya belajar untuk memahami bahwa hidup yang bahagia tidak pernah cukup, namun kita bisa mencapai bahagia yang sejati manakala tindakan hidup benar-benar mengarahkan pada ekspresi nyata mengasihi diri.

Hal ini berarti mencintai diri atau self-love bukanlah pilihan yang tepat, Gen-Z perlu menyadari bahwa kebahagiaan bersumber dari hal-hal yang esensial seperti kesadaran diri untuk bersikap welas asih terhadap dirinya sendiri.

GEN-Z PERLU WELAS DIRI

Pada derasnya kemajuan zaman, teknologi digital, dan berbagai dinamika perubahan sosial yang ada, kerap kali Gen-Z menjadi gamang dalam memahami tujuan hidup yang sesungguhnya. Hal-hal yang secara esensial seharusnya ada, kini dikejar seolah-olah begitu langka termasuk di dalamnya berbagai upaya untuk menunjukkan kasih sayang terhadap diri sendiri.

Fenomena seperti FoMO, ajakan untuk memiliki prinsip You Only Live Once (YOLO) dan berbagai usaha mengekspresikan self-love sebenarnya memiliki dualitas yang begitu paradoksal. Di satu sisi hal-hal tersebut dirasa perlu karena akan memberikan efek kebahagiaan dan perasaan bahwa hidup telah dijalani dengan sungguh-sungguh, namun di saat yang bersamaan semua tindakan itu ternyata tidak sejalan dengan nilai-nilai hidup secara esensial.

Kebanyakan Gen-Z yang berpegang pada prinsip YOLO seringnya memebelanjakan uang untuk barang atau sebuah pengalaman tertentu, menariknya hal ini nyaris terjadi secara intens sehingga tujuan memperoleh sesuatu yang membahagiakan, di lain sisi juga berdampak pada aspek finansial.

Perlu disadari bahwa hidup yang sejati tidak sepenuhnya berisi kebahagiaan saja, Gen-Z perlu untuk menyadari dan belajar bahwa realitas hidup selalu dipenuhi berbagai perasaan, situasi hidup, dan kondisi. Di dalam perkembangan psikologi positif hampir dua dekade terakhir, konsep seperti Subjective Well-Being (SWB) kerap menjadi rujukan dalam mendefinisikan hidup yang sejahtera.

Menariknya SWB justru tidak mendefinisikan kesejahteraan sebagai suatu keadaan tanpa penderitaan, melalui risetnya (Diener, 2009) menjelaskan bahwa individu yang sejahtera ialah mereka yang puas dengan kehidupannya, mampu menerima seluruh keadaannya di kondisi baik maupun tidak baik.

Secara konseptual hal ini dijelaskan sebagai komponen kepuasan hidup, sehingga Gen-Z perlu menyadari bahwa hidup yang benar-benar sejahtera dan bahagia, pada dasarnya lahir dari penerimaan serta kesadaran untuk belajar merasa puas dengan seluruh kondisi yang ada.

Kesadaran untuk menerima dan belajar merasa puas tentunya tumbuh dari sikap yang positif, baik, penuh hormat, serta cinta terhadap diri sendiri. Sikap positif terhadap diri sendiri muncul karena seseorang menyadari bahwa kehidupannya pantas untuk dihargai, dan tidak selalu bergantung pada penilaian orang lain. Hal ini disebut sebagai ‘self-compassion’ yang dalam terjemahan (Sugianto dkk., 2020) dalam penelitiannya di Jurnal Psikologi Ulayat,‘self-compassion’ lantas dimaknai sebagai ‘welas diri’.

Sebagaimana welas diri merupakan cerminan dari tindakan welas asih terhadap diri sendiri. Welas diri bukan konsep teoritis yang rumit, sebagai suatu praktik welas diri jauh lebih esensial daripada self-love. Jika self-love merujuk pada tindakan sederhana yang mengejar perasaan bahagia, maka welas diri mengajarkan kita untuk hidup dengan jujur dan apa adanya, niscaya kesejahteraan hidup akan tumbuh dengan sendirinya; seiring dengan perubahan sikap positif yang dinyatakan kepada diri sendiri.

DARI PERASAAN KE TINDAKAN NYATA

Praktisi pemulihan diri (Alm) Reza Gunawan dan Dee Lestari baru-baru ini menerbitkan buku yang berjudul “Selaras: Hidup Berkesadaran Menuju Harmoni Diri”. Buku tersebut merupakan kumpulan tulisan Alm. Reza yang dihimpun kembali oleh istrinya, Dee Lestari. Salah satu istilah kunci yang jarang ditemukan dalam kebanyakan buku-buku pengembangan diri adalah: Diri yang sejati.

Hampir kebanyak tulisan lebih berfokus pada upaya perubahan diri agar menjadi seseorang yang produktif, aktif, sehat, bahagia dst, namun jarang sekali penulis kontemporer yang berfokus pada hal-hal lebih fundamental. Oleh karena itu sebagai suatu saran praktis bagi Gen-Z, maka sudah saatnya untuk belajar membentuk hidup yang lebih baik dengan alasan-alasan yang esensial. Oleh karena kita patut bersikap welas diri terhadap diri sendiri, sebab kebahagiaan akan tumbuh tanpa harus dikejar secara paksa.  Berikut beberapa saran untuk Gen-Z:

Baca Juga :  Kampung sebagai Pusat Peradaban Demokrasi

Belajar menerima (Acceptance): Realitas sehari-hari akan selalu penuh kekecewaan tetapi di lain sisi, kekecewaan dapat menjadi pelajaran berharga sebagai pembentuk makna hidup. Sehingga Gen-Z perlu belajar untuk menerima seluruh keadaan dalam hidupnya, karena itu, hindari kebiasaan berpikir positif pada saat-saat yang menuntut realistis dan rasional.

Jika keadaannya memang sulit maka carilah solusi dan selesaikan perlahan-lahan, karena berpikir positif pada saat yang tidak tepat justru menjadi jebakan bagi diri sendiri, karena itu jika situasinya berat maka terima apa adanya dan bertindaklah yang tepat serta bijaksana. Penerimaan dimulai dengan tidak terus mengingkari keadaan, tetapi secara jujur dan apa adanya mau menerima apa yang terjadi tanpa harus menuntut kemungkinan lainnya.

Belajar mengakui perasaan (Confession): Gen-Z kerap kali ingkar dengan perasaan yang dialaminya, label seperti strawberry generation seringnya menjadi alasan mengapa seseorang takut menyatakan perasaannya. Padahal emosi-emosi dalam diri kita memang terbentuk secara alamiah, bukan sekadar pengaruh psikologis sebab setiap emosi hadir pada saat yang tepat.

Oleh karena itu belajarlah untuk jujur dengan perasaan sendiri, jika ingin marah maka nyatakanlah, akui bahwa perasaan itu ada dan harus diekspresikan pada saat yang tepat. Jika seseorang terus menerus menyakiti hati kita di saat pengampunan telah berkali-kali diberikan, maka pilihan untuk marah dan melepaskannya adalah hal yang wajar. Ingat bahwa welas diri berarti bertindak utama pada kebutuhan hati kita, persoalan orang lain biarlah menjadi tanggung jawabnya sendiri.

Belajar melepaskan hal-hal yang memberatkan (Let it go): Banyak Gen-Z yang mengakui bahwa dia merasa tidak dihargai dalam hubungannya, namun di saat yang bersamaan dia memilih bertahan dalam relasi yang tidak sehat itu. Inilah hal paling menyedihkan yang kerap dialami banyak Gen-Z, mereka tahu posisinya, mengerti betul apa yang harus dilakukan, namun seringnya terlalu ragu untuk mengambil keputusan dengan berani.

Karena itu belajarlah untuk melepaskan apa pun yang tidak lagi perlu digenggam, sebab melepaskan tidak serta-merta membuat kita kehilangan nilai baik dalam diri. Justru melepaskan dapat menjadi pintu awal menemukan hal lain yang jauh lebih bermakna dalam hidup, hal ini bisa berlaku pada relasi pertemanan, hubungan romantis, pekerjaan, hingga relasi dalam keluarga.

Tidak sedikit orang telah mengakui bahwa ketika mereka melepaskan sesuatu yang memberatkan hati, maka hidupnya justru lebih bermakna dan kebahagiaan tanpa dikejar justru tumbuh dengan sendirinya.

Mengejar hidup yang bahagia adalah upaya untuk menangkap angin, begitu rapuh, sia-sia dan tidak perlu. Karena itu di tengah tuntutan hidup yang kian rumit, Gen-Z hanya perlu satu kesadaran; bersikaplah baik pada dirimu sendiri, peganglah nilai-nilai yang utama, alami pertumbuhan diri, lalu lepaskan hal-hal yang tidak penting. Bagaikan pohon, hidup kita harus terus tumbuh dan berbuah pada saat yang tepat, tugas kita merawat segala sesuatu yang pantas dan penting saja dalam hidup ini.

Sebab semakin kita tumbuh, kita akan sadar bahwa Gen-Z adalah generasi yang kuat dan hebat, generasi ini lahir pada titik perubahan penting dalam kemajuan teknologi dan perubahan sosial.

Oleh karena itu, keberadaan kita sangatlah penting di tengah masyarakat, namun itu semua akan terasa apabila kita benar-benar mampu membentuk hidup secara tepat bukan karena pengaruh orang lain, melainkan karena pilihan sendiri. Gen-Z yang memiliki bertindak welas diri adalah mereka yang memutuskan untuk hidup jujur, tenang, produktif, dan bahagia.

Sumber Referensi:

  • Diener, E. (2009). Personality and subjective well-being. In The Science of Well-Being(pp. 75-102). Springer, Dordrecht.
  • Nurfadilah, S., Handayani, L., Salsabila, S., Rohadi, M. P., Arifin, M., & Yasmin, D. F. (2024). Self Love Education On To Maintain Mental Health In The Digital Era To Create A Productive, Healthy, And Happy Young Generation. Abdi Dosen: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat8(4), 1700-1708.
  • Putranto, P. (2025). The Application of Behaviorist Theory in Changing FoMO (Fear of Missing Out) Behavior in Generation Z. American Journal of Economic and Management Business (AJEMB)4(2), 115-123.
  • Puspitasari, C. A., Kamaludin, M., Pratama, M. R., & Azahra, S. A. (2025). Pengaruh Fenomena Fear Of Missing Out (Fomo) Terhadap Tingkat Kecemasan Dan Kepuasan Hidup Mahasiswa Gen Z Di Media Sosial. Jurnal Intelek Insan Cendikia2(1), 1298-1310.
  • Ritter, Z., Dugan, A., Felton, C., Johnson, B, R., Padgett, R, N., VanderWeele, T, J. (2025). The Global Flourishing Study (What Contributes To A Life Well-Lived?). Washington D.C: Gallup.
  • Salam, E. (2023). Social media particularly damaging to mental health of Gen Zers, says study. Diakses pada: 14 Februari 2026, melalui tautan: https://www.theguardian.com/media/2023/apr/28/social-media-mental-health-gen-z#:~:text=New%20data%20on%20the%20impact,negative%20feelings%20about%20social%20media.%E2%80%9D.
  • Sartika, M., Naraha, H. C., & Afiati, N. S. (2024). Self-compassion sebagai upaya mengasihi diri: Ditinjau dari perbedaan jenis kelamin dan jenis perguruan tinggi. Peran Psikologi Dalam Pemberdayaan Masyarakat Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia, 190-200.
  • Sugianto, D., Suwartono, C., & Sutanto, S. H. (2020). Reliabilitas dan validitas self-compassion scale versi Bahasa Indonesia. Jurnal Psikologi Ulayat7(2), 177-191.
  • Tompkins, C. (2023). Self-Love as a Therapeutic Intervention. Diakses pada: 12 Februari 2026, melalui tautan: https://www.psychologytoday.com/us/blog/lgbtq-affirmative-psychology/202301/self-love-as-a-therapeutic-intervention.
  • Zanidya, C. (2026). Cek Fakta: Dari Ratusan Negara, Indonesia Paling Bahagia?. Diakses pada: 18 Februari 2026, melalui tautan: https://www.dw.com/id/indonesia-paling-bahagia/a-75726378.

Follow WhatsApp Channel www.headlinetimur.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Maluku Integrated Port dalam Perspektif Pembangunan Sektor Kelautan dan Perikanan
Agama Samawi, Ekonomi Global Timur Tengah
Ganti Untung, Bukan Ganti Rugi: Martabat Warga Lermatang di Pusaran Blok Masela
Islam Maluku, Akulturasi Sunni-Syiah di Antara Mazhab dan Budaya
Kematian Siswa MTs di Tual dan Reformasi Polri secara Holistik
MIP dan Ujian Keadilan Pembangunan Maluku
Prestasi, Bukan Sekadar Prestise: Catatan Sosiologis atas Capaian Zona Kuning Pelayanan Publik Pemda KKT
Kurikulum Literasi Digital sebagai Upaya Meningkatkan Kesadaran Kritis

Berita Terkait

Selasa, 24 Maret 2026 - 19:15 WIT

Maluku Integrated Port dalam Perspektif Pembangunan Sektor Kelautan dan Perikanan

Senin, 16 Maret 2026 - 02:53 WIT

Agama Samawi, Ekonomi Global Timur Tengah

Jumat, 6 Maret 2026 - 20:31 WIT

Ganti Untung, Bukan Ganti Rugi: Martabat Warga Lermatang di Pusaran Blok Masela

Kamis, 5 Maret 2026 - 08:26 WIT

Islam Maluku, Akulturasi Sunni-Syiah di Antara Mazhab dan Budaya

Rabu, 4 Maret 2026 - 09:18 WIT

Kematian Siswa MTs di Tual dan Reformasi Polri secara Holistik

Berita Terbaru