Siaran televisi pemerintah Iran pada Senin (1/3/26) mengumumkan syahidnya Ayatullah Imam Ali Khamenei. Informasi ini segera mengguncang panggung politik dunia dan memicu perhatian internasional.
Mengutip Kantor Berita Islamic Republic News Agency (IRNA) dan Televisi Al-Manar Lebanon, Supreme National Security Council of Iran menyatakan kesyahidan Imam Ali Khamenei akan menjadi “titik awal perlawanan besar melawan para tiran dunia.”
Pernyataan tersebut dirilis beberapa jam setelah kabar wafatnya pemimpin tertinggi tersebar luas di media dalam negeri.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam rilis resmi, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya dan penghormatan.
IRGC mengutip ayat Al-Qur’an tentang kemuliaan orang yang gugur di jalan Allah SWT, serta menyebut Imam Ali Khamenei sebagai “pemimpin para Syuhada Revolusi Islam” dan figur sentral arah politik Iran selama lebih dari tiga dekade.
IRGC menegaskan kesyahidan terjadi “di tangan para teroris dan tiran manusia.” Pada bagian lain, pernyataan itu menuding pemerintah Amerika Serikat dan “entitas Zionis” sebagai pelaku aksi teror yang dinilai melanggar nilai agama, moral, dan hukum internasional.
Militer Iran, termasuk pasukan Basij, memastikan kelanjutan garis kebijakan dan strategi yang telah dirintis Khamenei. IRGC juga menyampaikan peringatan keras terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab. “Para pembunuh Imam Umat tidak akan lolos dari hukuman tegas dan menggetarkan,” demikian kutipan dalam pernyataan tersebut.
Seruan mobilisasi nasional turut disampaikan. IRGC mengajak seluruh lapisan masyarakat hadir di “medan pertahanan nasional” dan menunjukkan persatuan bangsa di hadapan dunia.
Pernyataan ini memperkuat indikasi potensi eskalasi di tengah ketegangan regional yang meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Imam Ali Khamenei memimpin Iran sejak 1989, menggantikan Ruhollah Imam Khomeini.
Selama masa kepemimpinan, Iran memperluas pengaruh regional melalui jaringan aliansi strategis dan penguatan sektor pertahanan, sembari menghadapi sanksi internasional dan tekanan geopolitik berkepanjangan.
40 Hari Masa Berkabung
Iran secara resmi menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari setelah mengonfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Minggu, 1 Maret 2026
Dalam siaran televisi pemerintah Iran yang dikutip BBC, seorang presenter menyampaikan pengumuman tersebut dengan suara bergetar dan penuh emosi, seraya mengatakan negaranya akan memasuki periode berkabung.
Beberapa media pemerintah Iran juga telah mengonfirmasi kematian Khamenei dengan mengutip pernyataan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Dalam pernyataan tersebut, tidak disebutkan secara rinci penyebab kematian pemimpin berusia 86 tahun itu, maupun siapa yang akan menggantikannya. (ahlubaitindonesia.com/metrotvnews.com)










