Menembus Keterbatasan Infrastruktur, Musisi Muda Maluku Unjuk Gigi di MTN Lab

- Penulis

Minggu, 26 Juli 2026 - 12:01 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

AMBON, HEADLINETIMUR.COM — Rangkaian program inkubasi musik MTN Lab x Rempah Gunung resmi ditutup dengan panggung pertunjukan di Taman Budaya Karang Panjang, Ambon, Sabtu malam, 25 Juli 2026.

Kegiatan yang berlangsung selama lima hari sejak 21 Juli ini menjadi wadah penggodokan sekaligus panggung ekspresi bagi sepuluh musisi muda terpilih asal Maluku untuk menembus keterbatasan infrastruktur industri musik di daerah.

Perwakilan penyelenggara dari Rempah Gunung, Pierre Ajawaila, menjelaskan bahwa program ini dirancang secara khusus untuk merespons minimnya seniman lokal yang memproduksi karya mandiri secara konsisten, meskipun Maluku kaya akan talenta musikal.

ADVERTISEMENT

ads. Ukuran gambar 480px x 600px

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Pierre, sepuluh musisi yang memiliki karya awal dibekali materi intensif, mulai dari penulisan lirik, struktur lagu, arah pengembangan karier (trajectory), branding, hingga produksi rekaman kolektif bersama para mentor.

Sugi Aryani dari pihak MTN menjelaskan bahwa keistimewaan musikal masyarakat Ambon menjadi alasan utama hadirnya program inkubasi ini untuk tahun kedua.

Menurutnya, musik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Maluku, yang terbukti dari fenomena banyaknya karakter vokal kuat serta potensi penulisan lagu (songwriting) yang sangat menonjol sejak tahap seleksi awal.

Sugi menekankan bahwa program MTN Lab bertindak sebagai pembekalan awal agar para peserta dapat tumbuh lebih mandiri dan mampu membangun pijakan karier (trajectory) masing-masing.

“Mengingat adanya keterbatasan ruang dan durasi program, keberlanjutan proses kreatif serta eksekusi karya selanjutnya sepenuhnya berada di tangan para musisi,” ujar Sugi Aryani.

Pihak MTN juga terus berupaya membukakan jalan jejaring yang lebih luas bagi para talenta daerah dengan menghubungkan mereka ke berbagai peluang eksternal, seperti program hibah (grant) hingga festival nasional.

Sugi pun mengimbau para musisi muda Ambon untuk tidak cepat berpuas diri di tingkat lokal dan berani memperluas kolaborasi ke luar daerah.

Sementara itu, musisi sekaligus mentor program, Tesla Manaf, menilai persoalan utama ekosistem musik di Ambon bukan terletak pada kualitas sumber daya manusia, melainkan ketimpangan infrastruktur.

“Keterbatasan studio rekaman ideal, tingginya biaya transportasi, hingga kendala akses informasi dan internet membuat musisi daerah sering kali tertinggal secara akses dibandingkan mereka yang berbasis di Pulau Jawa,” kata Tesla.

Untuk menyikapi keterbatasan tersebut, Tesla menekankan pentingnya efisiensi proses produksi dan pemanfaatan peralatan yang ada tanpa harus menunggu fasilitas studio yang ideal.

Dalam sesi rekaman intensif selama 6 jam, ia mengajak para peserta memproduksi karya secara spontan dari nol hingga menjadi lagu utuh yang siap jahit.

Baca Juga :  Behind the Scenes of Modeling: The Truth About What it Takes to be a Successful Model

Tesla menegaskan bahwa di tengah persaingan industri musik yang ketat, kemahiran teknis saja tidak cukup untuk bertahan.

Menurutnya, hal paling krusial yang harus dimiliki dan ditonjolkan oleh seorang musisi adalah karakteristik atau ciri khas yang membedakan karyanya dari yang lain.

Mentor penyanyi Grace Sahertian mengaku sangat terkesan dengan tingginya musikalitas serta keberagaman genre yang diusung para musisi muda di Ambon, mulai dari ambient, musik etnik, hingga hip-hop. Ia menyoroti bermunculannya talenta musisi perempuan asli daerah yang mahir memainkan instrumen serta menulis lagu dengan diksi yang kaya.

Grace menilai bahwa bakat-bakat besar di Ambon akan terbuang sia-sia jika tidak ditunjang oleh infrastruktur dasar seperti studio latihan, fasilitas rekaman, dan panggung pertunjukan yang memadai.

“Lewat program ini, para peserta diharapkan dapat menyerap ilmu sebanyak-banyaknya untuk kemudian mengambil tanggung jawab penuh atas karier musik mereka sendiri,” ungkap Grace.

Ia juga mengingatkan pentingnya konsistensi dalam berkarya, pembentukan identitas diri (branding), serta pemahaman strategi promosi mandiri bagi musisi yang ingin masuk ke industri.

Grace berkomitmen untuk terus menjaga koneksi dan memberikan dukungan moril maupun teknis bagi para peserta agar karya-karya mereka dapat terwujud secara berkelanjutan.

Dampak dari rangkaian pelatihan dan pendampingan intensif tersebut dirasakan langsung oleh para peserta yang terlibat, di antaranya Argon, Lola Abrahams, dan Ardelony Imlabla.

Musisi asal Kepulauan Kei (Kota Tual), Argon, mengungkapkan bahwa kesempatan bertolak langsung dari wilayah kepulauan menuju Ambon menjadi pengalaman berharga untuk menimba ilmu dan memperluas jejaring.

Selama lima hari, ia dan peserta lainnya mendapatkan wawasan mendalam mengenai ekosistem musik, mulai dari metode penulisan lagu hingga tahap produksi modern, yang ditutup dengan presentasi karya mandiri serta karya kolaborasi.

“Saya berharap program pendampingan serupa dapat diselenggarakan secara berkelanjutan mengingat melimpahnya bakat seni di daerah yang membutuhkan wadah pengembangan secara profesional,” ujarnya.

Setelah membuktikan hasil pembelajarannya di panggung pertunjukan, ia mengaku optimistis seluruh peserta mampu mengeksekusi materi yang diperoleh untuk terus berkarya di industri musik.

Sementara itu, vokalis grup musik etnik Kai Hulu, Lola Abrahams, menyampaikan bahwa pelatihan ini memberikan cara pandang yang sepenuhnya baru dalam perjalanan bermusiknya.

Ia menyadari bahwa selama ini banyak musisi lokal berproses secara intuitif tanpa memikirkan struktur, strategi pengelolaan karya, hingga pentingnya elemen visual dan promosi agar pesan dalam lagu tersampaikan secara efektif.

Baca Juga :  Building a Love of Reading: Tips and Strategies for Encouraging Kids to Develop a Reading Habit

Pengalaman inkubasi tersebut juga menjadi titik balik personal bagi Lola untuk meruntuhkan keraguan diri dan keluar dari zona nyaman. Dorongan dari para mentor membuatnya menyadari potensi diri untuk berani tampil mandiri sebagai penyanyi solo, sekaligus membakar kembali semangatnya untuk membawa energi baru bagi ekosistem musik di Ambon.

Peserta lainnya, Ardelony Imlabla atau yang akrab disapa Padel, menilai ilmu dan nilai yang diperoleh selama kegiatan menjadi bekal jangka panjang yang bermanfaat hingga kurun waktu mendatang.

Bagi Padel, pencapaian paling esensial dari proses pelatihan ini adalah kesempatan untuk lebih mengenali dan menemukan jati diri bermusiknya melalui eksplorasi karya secara langsung.

Meski menghadapi tantangan teknis saat menyusun komposisi lagu dalam durasi terbatas tanpa kerangka awal, Padel mengapresiasi seluruh wawasan edukatif yang dibagikan mentor.

Ia memberikan catatan agar pelatihan mendatang menyediakan sesi pendampingan personal (one-on-one) dengan alokasi waktu khusus bagi setiap peserta agar pendampingan dapat berlangsung lebih fokus sesuai kebutuhan individu.

Respons positif turut datang dari penikmat musik yang hadir pada malam penutupan, Vili Aponno. Menurut Vili, konser yang menampilkan sembilan pengisi acara ini bukan sekadar ajang hiburan, melainkan wadah edukasi bernilai tinggi yang memberi warna baru bagi ekosistem musik di Ambon.

Salah satu hal paling berkesan baginya adalah edukasi sejarah karya musik lokal—seperti saat penampilan Lola Abrahams yang meluruskan fakta bahwa lagu karya maestro Opa Bing Leiwakabessy sebenarnya berjudul Hasil Maluku, bukan Pohon Sagu seperti yang awam diketahui.

Vili menekankan bahwa ajang ini juga memberikan ruang berani bagi eksperimen musik instrumental. Kendati sebagian pendengar masih merasa asing dengan bentuk eksperimental tersebut, atmosfer acara berhasil membangun rasa saling menghargai antara penampil dan penonton.

“Pengalaman ini membuktikan kelimpahan SDM musik Maluku yang sayangnya masih terbentur keterbatasan infrastruktur, sehingga panggung semacam MTN Lab hadir menjadi jawaban atas kebutuhan ruang ekspresi yang inklusif,” kata Vili.

Bagi Vili, keberadaan ruang eksperimen ini menjadi catatan kritis sekaligus penyegaran bagi predikat Ambon sebagai City of Music. Kota ini dinilai sangat membutuhkan lebih banyak panggung serupa agar para musisi lokal tidak melulu terkotak pada genre populer seperti Melayu Pop.

Konser penutup ini meninggalkan kesan mendalam sekaligus memantik harapan agar kegiatan yang memperluas jangkauan penonton dapat terus digelar di masa mendatang.(*/HT-01)

Follow WhatsApp Channel www.headlinetimur.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kawal Seleksi Akpol 2026, Irwasda Maluku: Harus Bersih dan Transparan
Behind the Scenes of Modeling: The Truth About What it Takes to be a Successful Model
Building a Love of Reading: Tips and Strategies for Encouraging Kids to Develop a Reading Habit
Beyond Reality: Exploring the Future of Gaming with Virtual Reality Technology
The Rise of Mobile Gaming: How Smartphones are Changing the Gaming Industry

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 12:01 WIT

Menembus Keterbatasan Infrastruktur, Musisi Muda Maluku Unjuk Gigi di MTN Lab

Kamis, 9 April 2026 - 22:56 WIT

Kawal Seleksi Akpol 2026, Irwasda Maluku: Harus Bersih dan Transparan

Selasa, 28 Maret 2023 - 23:02 WIT

Behind the Scenes of Modeling: The Truth About What it Takes to be a Successful Model

Selasa, 28 Maret 2023 - 22:58 WIT

Building a Love of Reading: Tips and Strategies for Encouraging Kids to Develop a Reading Habit

Selasa, 28 Maret 2023 - 22:50 WIT

Beyond Reality: Exploring the Future of Gaming with Virtual Reality Technology

Berita Terbaru

Iptu Chalid Waliulu. (Foto: Istimewa)

Hukum & Kriminal

Imbas Narkoba, Kapolda Maluku Tunjuk Iptu Chalid Jadi Kapolsek Leihitu

Kamis, 13 Agu 2026 - 20:31 WIT

Ilustrasi Polisi pemakai narkoba

Hukum & Kriminal

Terbukti Positif Sabu, Kapolsek Leihitu Terancam Dipecat dan Dipidana

Rabu, 12 Agu 2026 - 19:25 WIT