Dari Rivalitas ke Viralitas: Pergeseran Kekuatan Sosial di Era Digital

- Penulis

Rabu, 26 Agustus 2026 - 16:27 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr. Sawal. (Foto: Dok. Pribadi)

Dr. Sawal. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh : Dr. Sawal

(Pegiat Peradaban/Akademisi STAI Said Perintah)


Realitas sosial abad ke-21 mengalami perubahan mendasar akibat perkembangan teknologi komunikasi. Sebuah peristiwa tidak berhenti pada ruang geografis dan waktu ketika kejadian berlangsung.

ADVERTISEMENT

ads. Ukuran gambar 480px x 600px

SCROLL TO RESUME CONTENT

Peristiwa dapat didokumentasikan, disebarluaskan, ditafsirkan ulang, dan diperdebatkan dalam ruang digital. Akibatnya, makna sebuah kejadian tidak ditentukan oleh fakta awal, tetapi bagaimana masyarakat melihat dan membicarakannya.

Perjalanan dari realitas menuju viralitas menggambarkan perubahan cara masyarakat membangun pemahaman terhadap suatu kejadian. Realitas yang sebelumnya hadir sebagai pengalaman langsung kemudian masuk ke jaringan digital dan mengalami proses pengolahan sosial.

Foto, video, komentar, unggahan ulang, dan respons pengguna membentuk lapisan makna baru. Sebuah isu memperoleh kekuatan ketika masyarakat memberikan perhatian dan menghubungkannya dengan pengalaman bersama.

Viralitas merupakan mekanisme sosial yang menentukan bagaimana sebuah gagasan memperoleh legitimasi publik. Informasi yang tersebar luas dapat membentuk persepsi, memengaruhi cara suatu persoalan dinilai, bahkan menentukan pihak yang dianggap memiliki posisi moral lebih kuat.

Dalam konteks ini, perhatian publik menjadi sumber kekuatan baru.
Media sosial menjadi ruang tempat berbagai kepentingan bertemu. Individu, kelompok masyarakat, institusi, perusahaan, dan aktor politik berkompetisi dalam membangun narasi.

Persoalan utama bukan lagi sekadar siapa yang memiliki informasi, tetapi siapa yang mampu mengarahkan perhatian publik. Realitas menjadi viral ketika menembus batas pengalaman individual dan berubah menjadi percakapan kolektif.

Dari Konsumen Informasi Menuju Produsen Budaya

Dalam Critical Communication Studies, Hanno Hardt mengangkat pemikiran Edward A. Ross dan Robert E. Park untuk menjelaskan hubungan media, opini publik, dan kehidupan sosial. Ross menempatkan opini publik sebagai kekuatan sosial yang dapat mendorong perubahan serta menjadi sarana kontrol terhadap kehidupan politik dan ekonomi.

Baca Juga :  MIP dan Ujian Keadilan Pembangunan Maluku

Pandangan ini semakin relevan karena opini publik tidak hanya dibentuk media konvensional, tetapi juga melalui interaksi dalam jaringan digital. Pandangan tersebut membantu menjelaskan proses dari realitas menuju viralitas. Sebuah peristiwa memperoleh makna sosial lebih besar ketika masyarakat membicarakan, menafsirkan, dan menyebarkannya secara terus-menerus yang kemudian menerobos masuk membentuk opini atau penilaian publik.

Meskipun demikian, Park mengingatkan bahwa masyarakat teknologi memiliki potensi konstruktif sekaligus destruktif. Media dapat memperluas hubungan sosial dan mempertemukan individu yang tidak memiliki kedekatan geografis. Pada saat yang sama, media dapat menciptakan “komunitas khayalan” (fictitious communities) dan “rasa kedekatan palsu” (a false sense of proximity).

Kondisi demikian semakin kuat dalam proses peralihan dari realitas ke viralitas. Masyarakat dapat merasa dekat dengan suatu peristiwa meskipun tidak mengalaminya secara langsung.

Pandangan ini sejalan dengan Y. A. Piliang yang menggambarkan perkembangan teknologi komunikasi sebagai kondisi ketika dunia seakan-akan “dilipat”.

Perspektif tersebut memberikan landasan untuk memahami perubahan budaya akibat perkembangan media digital. Internet mempercepat perubahan dari budaya massa menuju budaya partisipatif. Masyarakat tidak lagi hanya menerima informasi, tetapi ikut menentukan bagaimana realitas ditafsirkan, diproduksi ulang, dan disebarkan.

Dalam model budaya massa, produksi pesan lebih banyak berada pada institusi yang mengendalikan media. Perusahaan media, pemerintah, dan kelompok elite memiliki posisi dominan dalam menentukan informasi yang beredar.

Namun media digital mengubah struktur tersebut karena individu dapat menghasilkan konten, membangun komunitas, dan memengaruhi percakapan publik dengan catatan tidak masuk pada aspek pelanggaran hukum.

Di tahap ini generasi digital menjadi aktor penting dalam perubahan. Media sosial digunakan untuk membangun identitas, menyampaikan kritik, memperjuangkan kepentingan, dan menciptakan simbol budaya baru. Pergeseran dari pengguna informasi menjadi produsen budaya membawa konsekuensi terhadap hubungan masyarakat dan kekuasaan.

Baca Juga :  Kampung sebagai Pusat Peradaban Demokrasi

Psikologi Massa dan Transformasi Gerakan Sosial

Hubungan viralitas erat dengan cara manusia membangun persepsi secara kolektif. Individu membentuk pandangan berdasarkan interaksi sosial yang mereka alami. Ketika sebuah isu muncul, masyarakat dapat mengalami penguatan dan keyakinan melalui pengulangan pesan, dukungan kelompok, komentar, dan pembentukan identitas dan berjuang bersama.

Fenomena ini merupakan “demo online” menjadi bentuk baru partisipasi sosial dalam masyarakat jaringan. Perjuangan terhadap suatu isu tidak selalu membutuhkan mobilisasi fisik dalam jumlah besar. Jaringan digital memungkinkan masyarakat dari berbagai wilayah menyampaikan tuntutan yang sama dan menciptakan tekanan publik membentuk persepsi bahwa itu layak diperjuangkan.

Pada saat yang bersamaan perhatian publik mencapai klimaks tertentu, institusi politik, organisasi, maupun perusahaan sering menghadapi tuntutan untuk memberikan respons. Viralitas dapat berfungsi sebagai mekanisme tekanan sosial. Konten yang memicu reaksi emosional sering memperoleh distribusi lebih besar dibandingkan gagasan yang membutuhkan pembacaan kritis.

Viralitas Kekuatan dan Tanggung Jawab Publik

Viralitas pada akhirnya perlu dipahami sebagai bentuk pressure publik atau kekuatan dan kekuasaan sosial baru di tengah masyarakat modern. Kekuatan tersebut dapat memberikan manfaat bagi demokrasi apabila masyarakat mampu mengelolanya melalui pengetahuan, tanggung jawab, dan sikap kritis dan presisi.

Jadi, di era digital, masyarakat bukan lagi sekadar penonton realitas. Masyarakat telah menjadi produsen, penafsir, sekaligus penggerak realitas sosial. Karena itu, semakin besar kemampuan seseorang membuat sesuatu menjadi viral, semakin besar pula tanggung jawabnya memastikan bahwa apa yang ia sebarkan benar, adil, dan berdampak bagi publik dan semesta.

Follow WhatsApp Channel www.headlinetimur.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Membongkar Warisan Kelam Blok Bula Demi Keadilan Rakyat Maluku
Prabowo Presiden ke-8, Saatnya Menepati Janji Sejarah kepada Maluku, Maluku Utara, dan Papua
Child Grooming: Ancaman Laten Bagi Anak Maluku
Hari Raya itu Bernama Piala Dunia
Bahlil, MBG, dan Politik yang Menaklukkan Timeline
Menelisik Lagi RUU Kepulauan: Krisis Tenurial, Iklim, dan Masa Depan Kepulauan Maluku
Mengakhiri Kutukan Ekologi Gunung Botak: Mengapa Langkah Gubernur Hendrik Lewerissa Wajib Kita Kawal?
Konservasi “Top-Down” di Kepulauan Babar: Menjaga Laut atau Mematikan Nadi Masyarakat?

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 15:02 WIT

Membongkar Warisan Kelam Blok Bula Demi Keadilan Rakyat Maluku

Rabu, 26 Agustus 2026 - 16:27 WIT

Dari Rivalitas ke Viralitas: Pergeseran Kekuatan Sosial di Era Digital

Minggu, 19 Juli 2026 - 15:21 WIT

Prabowo Presiden ke-8, Saatnya Menepati Janji Sejarah kepada Maluku, Maluku Utara, dan Papua

Sabtu, 11 Juli 2026 - 19:57 WIT

Child Grooming: Ancaman Laten Bagi Anak Maluku

Senin, 29 Juni 2026 - 21:03 WIT

Hari Raya itu Bernama Piala Dunia

Berita Terbaru

Prosesi penyerahan Pataka Kota Ambon oleh para jujare mongare kepada Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena pada upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-451 Kota Ambon yang digelar di Lapangan Merdeka, Senin (7/9/2026). (Foto : Diskominfo Kota Ambon)

Pemerintahan

HUT ke-451, Wali Kota Ajak Warga Jadikan Ambon Rumah Bersama

Selasa, 8 Sep 2026 - 07:43 WIT