AMBON, HEADLINETIMUR.COM — Kota Ambon ditetapkan sebagai salah satu daerah berkinerja baik dalam percepatan penurunan stunting di Provinsi Maluku dengan nilai 74,15. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI), kasus stunting di Ambon menurun dari 279 kasus atau 1,60 persen pada 2025 menjadi 271 kasus atau 1,58 persen pada 2026.
“Capaian ini merupakan hasil kerja kolaborasi kita bersama dalam penurunan stunting di Kota Ambon. Pemerintah Kota Ambon menargetkan penurunan angka stunting sebesar tiga persen setiap tahun,” ujar Wakil Wali Kota (Wawali) Ambon, Ely Toisutta dalam sambutan pada kegiatan Ceramah Kesehatan di Baileo Slamet Riyadi Korem 151/Binaiya, Rabu (23/9/26).
Ia menekankan bahwa percepatan penurunan stunting tidak hanya berorientasi pada penurunan angka semata, tetapi juga memastikan setiap anak di Kota Ambon dapat tumbuh sehat dan berkembang secara optimal.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
“Karena itu, pencegahan harus dilakukan sedini mungkin. Perhatian terhadap kesehatan dan pemenuhan gizi anak harus dimulai sejak masa kehamilan, dilanjutkan pada masa bayi, dan terus diperkuat pada periode pertumbuhan berikutnya,” kata Toisutta.
Menurutnya, materi ceramah kesehatan yang membahas pemberian makan bayi dan anak serta pemahaman kurva tumbuh kembang dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) sangat relevan.
Buku tersebut tidak hanya digunakan saat orang tua datang ke Posyandu atau fasilitas kesehatan, tetapi juga menjadi instrumen penting untuk memantau kesehatan dan pertumbuhan anak secara berkala.
Selain itu, Toisutta mengingatkan bahwa persoalan gizi anak tidak selalu berkaitan dengan ketersediaan makanan. Pengetahuan, kebiasaan, pola asuh, pemilihan bahan pangan, cara pengolahan, frekuensi pemberian makanan, hingga pemahaman keluarga mengenai kebutuhan gizi sesuai tahapan usia turut memengaruhi kondisi gizi anak.
“Persoalan gizi bukan semata-mata karena tidak tersedianya makanan, tetapi juga berkaitan dengan pengetahuan, pola asuh, pemilihan bahan pangan, cara pengolahan, serta pemahaman kebutuhan gizi sesuai usia anak,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran kader Posyandu, kelompok perempuan, dan organisasi kemasyarakatan dalam memberikan edukasi kepada keluarga.
“Kita ingin membangun kesadaran bahwa makanan yang bergizi tidak selalu harus mahal. Dengan memanfaatkan pangan yang tersedia di sekitar kita, keluarga dapat menyiapkan makanan yang beragam dan sesuai dengan kebutuhan anak, dengan tetap memperhatikan kualitas, kebersihan, keamanan, dan kecukupan gizinya,” jelas Toisutta. (HT-01)








