AMBON, HEADLINETIMUR.COM – Kapolda Maluku, Irjen Pol. Prof. Dr. Dadang Hartanto, bertindak sebagai khatib dalam pelaksanaan Shalat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah yang dipusatkan di Lapangan Merdeka, Kota Ambon, Sabtu (21/3/2026).Di bawah langit cerah pukul 06.30 WIT, ribuan jamaah memadati lapangan dalam suasana khusyuk. Bertindak sebagai imam adalah H. Hadi Basalamah.
Momentum kemenangan ini turut dihadiri oleh jajaran Forkopimda Maluku, termasuk Gubernur Maluku, Pangdam XV/Pattimura, Kabinda, serta tokoh-tokoh agama dan masyarakat.
Dalam khutbahnya, Kapolda mengajak jamaah merenungkan makna perpisahan dengan Ramadan.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menegaskan bahwa Ramadan bukanlah sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah “Madrasah Kehidupan” yang dirancang untuk menempa karakter manusia.
“Para ulama salaf berdoa selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadan, dan enam bulan berikutnya mereka berdoa agar amalannya diterima. Ini bukti betapa agungnya Ramadan bagi seorang mukmin,” ungkap Kapolda.
Ia menekankan bahwa esensi puasa adalah pengendalian diri—bukan hanya menahan lapar, tetapi juga meredam amarah dan ego pribadi.
Menurutnya, kekuatan sejati seseorang diuji pada kemampuannya menjaga hati tetap tenang di tengah gejolak emosi.
Idulfitri dan Kelulusan Spiritual
Kapolda mengibaratkan Idulfitri sebagai “hari kelulusan” setelah menempuh pendidikan spiritual selama sebulan penuh.
Namun, kelulusan ini harus dibuktikan dengan perubahan perilaku yang nyata dalam kehidupan sosial.
“Ibadah Ramadan seharusnya melahirkan pribadi yang lebih lembut hatinya, lebih tenang sikapnya, dan lebih luas kasih sayangnya kepada sesama,” ujarnya.
Kapolda juga menyoroti tradisi saling memaafkan sebagai jembatan untuk meruntuhkan dinding ego dan mempererat tali silaturahmi.
Menariknya, Kapolda secara khusus mengaitkan nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal Maluku.
Ia menyerukan pentingnya menjaga semangat “Hidup Orang Basudara” sebagai benteng pertahanan sosial di daerah tersebut.
Filosofi lokal seperti “potong di kuku rasa di daging” dan “sagu salempeng dibagi dua” dinilai sangat relevan dengan hadis Nabi SAW tentang mencintai saudara layaknya mencintai diri sendiri.
“Perbedaan suku dan agama adalah kehendak Allah agar kita saling mengenal. Jangan biarkan dinamika sosial memecah belah kita. Ingat, perdamaian itu selalu lebih baik,” tegas Irjen Pol. Dadang Hartanto.
Sebagai pucuk pimpinan kepolisian di Maluku, ia mengingatkan bahwa rasa aman adalah nikmat besar yang sering kali terlupakan.
Tanpa stabilitas, aktivitas ibadah dan ekonomi tidak akan berjalan maksimal.
Olehnya itu, Ia mengajak masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu kebenarannya. (HT-01)










