Belajar dari Kegagalan Bandara Kertajati, Praktisi Pelabuhan Dukung MIP Dibangun di Ambon

- Penulis

Rabu, 25 Maret 2026 - 21:36 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Pelabuhan Terintegrasi. Foto : Pelindo

Ilustrasi Pelabuhan Terintegrasi. Foto : Pelindo

AMBON, HEADLINETIMUR.COM– Praktisi pelabuhan senior sekaligus tokoh pengembang terminal peti kemas nasional, Johny Rondonuwu, mengeluarkan peringatan keras terkait rencana pembangunan Maluku Integrated Port (MIP).

Ia meminta masyarakat dan pemangku kepentingan untuk tidak memaksakan pembangunan pelabuhan terintegrasi di Pulau Seram yang dinilai tidak layak secara teknis dan berisiko menjadi proyek mangkrak berikutnya.

Johny menegaskan bahwa kebijakan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, untuk melakukan studi kelayakan (feasibility study) ulang adalah langkah penyelamatan ekonomi daerah yang tepat.

ADVERTISEMENT

ads. Ukuran gambar 480px x 600px

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Johny, studi kelayakan bukan sekadar formalitas administratif, melainkan instrumen vital dalam pembangunan infrastruktur.

Berdasarkan hasil kajian lembaga independen yang berpengalaman di bidang pelayaran, lokasi di Waisarisa, Pulau Seram, dinyatakan tidak layak.

“Di negara maju, ketika studi kelayakan menyatakan tidak layak, proyek dihentikan. Tidak ada perdebatan politik. Memaksakan proyek yang secara data tidak layak sama saja dengan menggali kubur bagi ekonomi Maluku sendiri,” tegas Johny dalam keterangannya, Rabu (25/3).

Salah satu poin krusial yang disoroti adalah konsep “Integrated” atau integrasi moda transportasi.

Baca Juga :  Warga Negeri Feri Paa dan Ollong Hibahkan Tanah untuk Bangun Dermaga Feri

Johny menjelaskan bahwa satu-satunya bandara komersial yang layak di Maluku saat ini adalah Bandara Pattimura yang terletak di Pulau Ambon.

Jika MIP dipaksakan di Pulau Seram, akan terjadi fenomena double handling (bongkar muat ganda) yang sangat mahal.

Alur logistik dari Seram ke Ambon yang dipisahkan lautan akan mengakibatkan penambahan rantai distribusi dari truk – pelabuhan – kapal penyeberangan – truk – bandara.

Selain itu, risiko kerusakan komoditas segar (perishable goods) seperti tuna, dan pembengkakan biaya yang drastis.

“Double handling adalah pembunuh efisiensi dan daya saing. Ini akan memakan margin keuntungan petani dan nelayan kita,” tambah Johny.

Dalam analisisnya, Johny memaparkan simulasi biaya logistik per ton untuk komoditas ekspor yakni
komponen biaya dengan skenario MIP di Seram dan di Pulau Ambon dengan selisih atau efisiensi mencapai Rp 6.500.000 / ton.

Menurut Johny, jika Maluku mengekspor 20.000 ton ikan per tahun, pemaksaan lokasi di Seram berpotensi menimbulkan kerugian logistik hingga Rp 130 miliar per tahun yang harus ditanggung oleh nelayan dan eksportir lokal.

Bayang-bayang Kegagalan Bandara Kertajati

Johny juga mengingatkan agar Maluku tidak mengulangi kesalahan Bandara Kertajati di Jawa Barat.

Baca Juga :  Lima Hari Menghilang, Nelayan Saparua Ditemukan Meninggal Dunia

Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka, yang dibangun dengan biaya Rp2,6 triliun, dinilai gagal beroperasi optimal karena sepi penumpang, kerugian operasional hingga Rp60 miliar per tahun, dan penghentian penerbangan domestik pada Juni 2025.

Penyebab utamanya adalah lokasi yang jauh dari Bandunh sebagai pusat ekonomi, konektivitas darat yang minim, dan pergeseran pasar.

Ia memprediksi jika MIP di Seram tetap dipaksakan, perusahaan pelayaran global (shipping line) seperti Maersk atau MSC tidak akan mau singgah karena tingginya biaya operasional.

“Jangan sampai kita membangun monumen kesombongan yang megah tapi sepi. Dermaga panjang dan ‘gantry crane’ modern hanya akan jadi hiasan jika kapal besar tidak datang. Akhirnya, rakyat hanya diwarisi utang pembangunan selama 30 tahun,” ujarnya.

Ia menutup dengan ajakan agar masyarakat mendukung keputusan berbasis data demi keberlangsungan ekonomi jangka panjang.

“MIP harus dibangun, tapi harus di lokasi yang benar-benar mengintegrasikan laut dan udara secara efisien agar produk Maluku bisa bersaing di pasar global,”pungkasnya. (HT-01)

Follow WhatsApp Channel www.headlinetimur.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sempat Hilang Arah Akibat Kabut, Nelayan Asal Aru Berhasil Pulang Selamat
Gubernur dan Forkopimda Maluku Tinjau Lokasi Groundbreaking Blok Masela
Krisis Air Bersih Melanda Bula, Polres SBT Gerak Cepat Kerahkan AWC
BNPB dan Alimudin Kolatlena Pastikan Ratusan Rumah Pengungsi Kariuw-Masihulan Segera Dibangun
Kemarau Mulai Melanda, Polres SBT Salurkan Air Bersih untuk Warga Bula
Lima Tahun Tinggal di Gubuk Sempit, Rumah Keluarga Bahrum di Bula Dibedah Polisi
Aksi Heroik Selamatkan Pelajar Tenggelam, Anggota Polri dan TNI AU Gugur di Pantai Nirun Malra
Operasi SAR Dihentikan, Bupati MBD Ajak Doakan Korban dan Keluarga

Berita Terkait

Senin, 29 Juni 2026 - 13:54 WIT

Sempat Hilang Arah Akibat Kabut, Nelayan Asal Aru Berhasil Pulang Selamat

Jumat, 26 Juni 2026 - 14:18 WIT

Krisis Air Bersih Melanda Bula, Polres SBT Gerak Cepat Kerahkan AWC

Rabu, 24 Juni 2026 - 15:57 WIT

BNPB dan Alimudin Kolatlena Pastikan Ratusan Rumah Pengungsi Kariuw-Masihulan Segera Dibangun

Selasa, 23 Juni 2026 - 21:01 WIT

Kemarau Mulai Melanda, Polres SBT Salurkan Air Bersih untuk Warga Bula

Senin, 22 Juni 2026 - 17:29 WIT

Lima Tahun Tinggal di Gubuk Sempit, Rumah Keluarga Bahrum di Bula Dibedah Polisi

Berita Terbaru

Sosial Kemasyarakan

Kota Tual Pertahankan Gelar Juara Umum MTQ Provinsi Maluku 2026

Senin, 29 Jun 2026 - 21:24 WIT

Opini

Hari Raya itu Bernama Piala Dunia

Senin, 29 Jun 2026 - 21:03 WIT