AMBON, HEADLINETIMUR.COM – Proyek Maluku Integrated Port (MIP) dipastikan batal dibangun di Waisarisa, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, telah mengonfirmasi pengalihan lokasi proyek strategis tersebut ke Pulau Ambon.
Pemindahan lokasi ini diklaim berlandaskan pertimbangan teknis dan efisiensi anggaran. Berdasarkan kajian yang didampingi oleh Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Bank Dunia, lokasi di Pulau Ambon dinilai lebih efektif untuk menekan biaya logistik serta mengatasi disparitas harga di wilayah Indonesia Timur.
Meski berpindah tempat, pemerintah memastikan MIP tetap diusulkan masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) periode 2025-2029 dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Keputusan ini menuai reaksi keras dari masyarakat SBB yang merasa diberi harapan palsu. Salah satu tokoh masyarakat SBB, Syuaib Pattimura, mengungkapkan kekecewaannya melalui sebuah video berdurasi 5 menit 17 detik yang viral.
“Buat bapak Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku, saya mau bilang terima kasih banyak. Bapak berdua sudah parlente (bohongi) kami masyarakat SBB,” cetus Syuaib dalam video tersebut.
Syuaib menilai pembatalan ini sebagai bentuk pengingkaran janji politik. Ia mempertanyakan mengapa pemerintah memberikan janji manis sebelum melakukan survei kelayakan yang mendalam.
Syuaib menyayangkan sikap pemerintah yang baru bicara soal teknis setelah masyarakat berharap besar.
Ia mengenang momen tahun lalu saat Wakil Gubernur hadir dalam acara buka puasa bersama dan memberikan semangat terkait proyek tersebut, namun kenyataannya justru berbanding terbalik pada tahun ini.
Masyarakat merasa sangat yakin karena Gubernur sempat memboyong Bupati SBB hingga ke Osaka, Jepang, untuk meyakinkan publik soal keseriusan pembangunan MIP di Waesarissa.
Bagi masyarakat SBB, kata Pattimura, pengumuman terbuka mengenai kepindahan lokasi ke Pulau Ambon merupakan pukulan telak.
Syuaib menegaskan bahwa meski secara politik suara mereka mungkin dianggap kecil, namun luka hati masyarakat tidak bisa diabaikan.
“Kita hanya mau bilang, kalau jadi pemimpin jangan suka tipu rakyat. Tuhan tidak buta. Intinya kami sangat kecewa. Terima kasih sudah parlente kami rakyat SBB,” tutupnya. (HT-02)










