Islam Maluku, Akulturasi Sunni-Syiah di Antara Mazhab dan Budaya

- Penulis

Kamis, 5 Maret 2026 - 08:26 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Azis Tunny. Foto: Dok. Pribadi Azis Tunny

Potret Azis Tunny. Foto: Dok. Pribadi Azis Tunny

Oleh: M. Azis Tunny

(Mantan Jurnalis/Pegiat Sosial Demokrasi)

Islam di Maluku tumbuh bukan di ruang hampa. Ia lahir dari perjumpaan samudera, dibawah oleh pedagang dan mubaliq dari Persia, Arab, Gujarat, dan ulama Nusantara. Hal itu menjadikan kepulauan rempah ini bukan sekadar titik jumpa ekonomi dan syiar, tetapi juga simpul peradaban.

ADVERTISEMENT

ads. Ukuran gambar 480px x 600px

SCROLL TO RESUME CONTENT

Karena itu, ketika orang berbicara tentang “Islam Maluku”, sesungguhnya yang dimaksud bukan sebatas praktik keagamaan, melainkan sebuah lanskap kultural yang unik. Di satu sisi, berakar kuat pada mazhab Sunni dalam fikih dan tata cara ibadah. Di sisi lain, menyerap jejak tradisi Syiah dalam ekspresi budaya dan ritus sosialnya.

Sejarah mencatat, Islam masuk ke Maluku jauh sebelum abad ke-10 dan baru melembaga di abad ke-13 melalui jalur perdagangan. Sejumlah sejarawan, termasuk Azyumardi Azra, dalam penelitiannya mengenai jaringan ulama Nusantara, menegaskan bahwa transmisi keilmuan Islam ke Indonesia tidak tunggal dan tidak monolitik.

Namun terhubung dengan berbagai pusat pembelajaran, mulai di Makkah, Madinah, Yaman, bahkan Persia. Artinya, sejak awal, spektrum pemikiran yang datang ke Maluku, tidak hanya Sunni dalam pengertian sempit, tetapi juga membawa unsur tasawuf dan tradisi Ahlul Bait yang dalam sejarahnya sering bersinggungan dengan tradisi Syiah.

Secara fikih, masyarakat Muslim Maluku umumnya mengikuti mazhab Syafi’i, sebagaimana mayoritas Muslim Nusantara. Dalam shalat, tata cara wudhu, dan hukum-hukum ibadah, rujukan mereka jelas berada dalam hukum fikih Sunni. Namun, jika kita bergerak ke wilayah budaya dan ritus komunal, maka jejak-jejak kecintaan pada Ahlul Bait dan peringatan tragedi Karbala tampak terekspresi dalam wajah lokal.

Peringatan 10 Muharram, yang di sejumlah tempat dikenal sebagai Asyura atau dikenal dengan “Lebaran Anak Yatim” atau Idul Yatama, memiliki kemiripan dengan tradisi memperingati syahidnya Imam Husain bin Ali di padang Karbala. Di Maluku, meskipun bentuknya tidak selalu identik, namun semangat peringatannya hadir dalam pembacaan doa, zikir, dan ritual tertentu yang bernuansa duka dan refleksi.

Baca Juga :  Ganti Untung, Bukan Ganti Rugi: Martabat Warga Lermatang di Pusaran Blok Masela

Tradisi pembacaan Kitab Barzanji, misalnya saat maulid, aqiqah, khitanan, atau pernikahan, berisi pujian dan riwayat kelahiran Nabi Muhammad SAW, juga menjadi bagian penting dalam kebudayaan Islam Maluku. Teks Barzanji yang ditulis oleh Ja’far al-Barzanji pada abad ke-18, memang populer di kalangan Sunni, tetapi di dalamnya terkandung pula penghormatan mendalam kepada keluarga Nabi.

Demikian pula hadrat atau hadrah, zikir berirama yang sering mengiringi perayaan keagamaan, hingga bersalawat, ziarah, tahlilan, tawassul, ta’ziah, maulid (aroha) memperlihatkan corak tasawuf yang historisnya tidak terpisah dari simpul-simpul spiritualitas Syiah dan tarekat-tarekat awal di dunia Islam.

Di sejumlah negeri (desa adat) di Maluku, praktik seperti dabus di Seram Timur dan Kepulauan Kei yakni pertunjukan ketahanan tubuh yang diiringi zikir, menunjukkan pengaruh tradisi tarekat yang berkembang luas di Samudra Hindia. Dalam kajian antropologi Islam Nusantara, praktik semacam ini sering dikaitkan dengan jaringan sufi yang memiliki hubungan intelektual dan spiritual dengan wilayah Persia dan India.

Sementara itu, ritus seperti mandi safar dan mandi tujuh likur menandai puncak spiritualitas bulan suci dengan simbol-simbol penyucian diri yang memadukan ajaran Islam dan kosmologi lokal.

Atraksi ma’atenu, pukul manyapu, hingga abdau, meskipun secara kasatmata adalah tradisi adat, sering diiringi narasi religius tentang keberanian, pengorbanan, dan solidaritas komunal. Dalam konteks tertentu, nilai-nilai ini menemukan resonansinya dengan narasi Karbala, yakni tentang keberanian, kesetiaan dan pengorbanan.

Relevansi ini bukan berarti masyarakat Maluku secara teologis mengidentifikasi diri sebagai penganut Syiah, namun menunjukkan bahwa memori kolektif tentang pengorbanan dan heroisme Ahlul Bait telah terinternalisasi dalam simbol-simbol budaya lokal.

Secara historis, ajaran Syiah di Indonesia, termasuk di Kepulauan Maluku lebih sering hadir dalam bentuk kultural ketimbang institusional. Banyak penelitian menyebut bahwa sebelum munculnya komunitas Syiah yang terorganisasi secara terbuka pada akhir abad ke-20, unsur-unsur Syiah telah lama menyatu dalam tradisi lokal lewat syiar di masa-masa awal masuknya Islam oleh pedagang Persia, baik melalui sastra hikayat, ritus Muharram, maupun tradisi tarekat.

Baca Juga :  Kampung sebagai Pusat Peradaban Demokrasi

Dalam beberapa kasus, praktik ini dijalankan secara tertutup atau tanpa label identitas mazhab yang eksplisit, sejalan dengan konsep taqiyyah dalam tradisi Syiah, yakni strategi menjaga keyakinan dalam situasi sosial-politik yang tidak kondusif. Namun di Maluku, fenomena ini lebih tepat dipahami sebagai proses akulturasi ajaran yang datang bernegosiasi dengan adat, bukan sebagai proyek dakwah.

Karena itu, Islam Maluku berkembang sebagai Islam yang tidak sibuk mempertentangkan mazhab. Ia lebih menekankan harmoni sosial dan kohesi adat. Dalam konteks sejarah Maluku yang pernah dilanda konflik komunal pada 1999, identitas keislaman yang lentur dan kultural ini justru menjadi modal sosial untuk rekonsiliasi. Islam tidak dipahami sebagai garis pemisah, tetapi sebagai perekat yang hidup berdampingan dengan tradisi dan struktur adat.

Menurut budayawan Koentjoroningrat, terdapat tiga lapisan kebudayaan, yaitu ideofak, sosiofak, dan artefak. Tradisi dan budaya keagamaan memiliki tiga level atau lapisan. Level terluar disebut artefak berupa simbol-simbol, level tengah disebut sosiofak berupa amalan ritus, dan level terdalam disebut ideofak berupa ide dan nilai dasar yang melandasi kedua lapisan lainnya. Ideofak adalah makna dan pesan inti dari tradisi dan budaya keagamaan.

Di tengah menguatnya polarisasi mazhab di berbagai belahan dunia Islam, pengalaman Maluku seharusnya menawarkan pelajaran penting bahwa perbedaan teologis tidak selalu harus menjadi sumber ketegangan. Dalam tubuh masyarakat, fikih boleh saja Sunni, tetapi ekspresi budaya bisa memelihara memori Ahlul Bait.

Identitas ini tidak dipagari oleh dikotomi kaku, melainkan dirawat dalam keseharian yang lebih cair. Islam Maluku, dengan demikian, adalah Islam yang berlapis Sunni dalam syariat, namun kaya nuansa Syiah dalam budaya, dan sepenuhnya Maluku dalam karakter sosialnya. Sebuah mozaik yang membuktikan bahwa dalam sejarah Nusantara, perbedaan tidak selalu berarti pertentangan, melainkan bisa menjadi jalan sunyi menuju sebuah harmoni yang menyatu. (*)

Follow WhatsApp Channel www.headlinetimur.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Maluku Integrated Port dalam Perspektif Pembangunan Sektor Kelautan dan Perikanan
Agama Samawi, Ekonomi Global Timur Tengah
Ganti Untung, Bukan Ganti Rugi: Martabat Warga Lermatang di Pusaran Blok Masela
Kematian Siswa MTs di Tual dan Reformasi Polri secara Holistik
MIP dan Ujian Keadilan Pembangunan Maluku
“Self Love” Saja Tidak Cukup untuk Bahagia! Gen-Z Perlu Menumbuhkan “Self-Compassion” Dalam Dirinya
Prestasi, Bukan Sekadar Prestise: Catatan Sosiologis atas Capaian Zona Kuning Pelayanan Publik Pemda KKT
Kurikulum Literasi Digital sebagai Upaya Meningkatkan Kesadaran Kritis

Berita Terkait

Selasa, 24 Maret 2026 - 19:15 WIT

Maluku Integrated Port dalam Perspektif Pembangunan Sektor Kelautan dan Perikanan

Senin, 16 Maret 2026 - 02:53 WIT

Agama Samawi, Ekonomi Global Timur Tengah

Jumat, 6 Maret 2026 - 20:31 WIT

Ganti Untung, Bukan Ganti Rugi: Martabat Warga Lermatang di Pusaran Blok Masela

Kamis, 5 Maret 2026 - 08:26 WIT

Islam Maluku, Akulturasi Sunni-Syiah di Antara Mazhab dan Budaya

Rabu, 4 Maret 2026 - 09:18 WIT

Kematian Siswa MTs di Tual dan Reformasi Polri secara Holistik

Berita Terbaru