AMBON, HEADLINETIMUR.COM – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor swasta.
Sinergi ini ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, memperkuat ketahanan pangan, mengoptimalkan ekonomi karbon laut (blue carbon), serta menyelesaikan berbagai persoalan lingkungan.
Hal tersebut ditegaskan Menko Pangan saat membawakan Kuliah Umum bertajuk “Peran Strategis Sumber Daya Kelautan dan Perikanan dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional yang Berkelanjutan” di Aula Rektorat Universitas Pattimura (Unpatti), Rabu (2/9/2026).
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan ini digelar untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai potensi besar sektor bahari dalam menopang ketahanan pangan nasional, sekaligus mendorong pengelolaan sumber daya laut secara optimal, inovatif, dan berkelanjutan.
Dalam pemaparannya, Menko Pangan menyoroti peran strategis perguruan tinggi dalam mendukung program-program prioritas pemerintah, khususnya di wilayah Kepulauan Maluku, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Salah satu fokus pemerintah saat ini adalah pengembangan program Kampung Nelayan untuk menyejahterakan masyarakat pesisir. Program ini mencakup pembangunan berbagai fasilitas pendukung, seperti balai lelang, sarana penyimpanan (cold storage), penyediaan bahan bakar, hingga penguatan koperasi nelayan.

Selain perikanan tangkap dan budidaya, pemerintah juga memacu nilai ekonomi karbon laut (blue carbon). Potensi pembiayaannya, menurut Menko, dapat diakses melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH). Namun, pemanfaatannya memerlukan kelembagaan dan tata kelola yang tepat.
“Dalam konteks ini, perguruan tinggi dapat menjadi mitra strategis untuk riset, pendampingan, penguatan kapasitas masyarakat, hingga pengembangan program desa mandiri pangan berbasis potensi unggulan daerah,” ujar Zulkifli Hasan.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi lintassektor—pemerintah, akademisi, dan dunia usaha—sangat krusial untuk menghasilkan inovasi serta teknologi aplikatif yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Sementara itu, Rektor Universitas Pattimura, Prof. Fredy Leiwakabessy, menyambut baik arahan Menko Pangan. Dalam sambutan sekaligus pembukaan acara, Rektor menegaskan kesiapan Unpatti sebagai kampus berbasis kepulauan.

“Universitas Pattimura memiliki SDM yang mumpuni serta sarana pendukung untuk memperkuat kapasitas nasional di bidang kelautan dan perikanan,” tutur Rektor.
Salah satu aset unggulan yang disoroti Rektor adalah kawasan Marine Station seluas kurang lebih 12 hektare. Kawasan ini telah dilengkapi fasilitas pemeliharaan dan budidaya, keramba jaring apung, cold storage, hingga pabrik es.
Namun, pengelolaannya belum maksimal karena keterbatasan anggaran.
“Untuk mengoptimalkan produktivitas area tersebut, kita membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Padahal, Marine Station ini sangat potensial memperkuat ekosistem perikanan dari hulu ke hilir, termasuk riset pembenihan, pendidikan, dan peningkatan ekonomi warga,” jelas Prof. Fredy.
Ia berharap kunjungan Menko Pangan menjadi titik awal terbukanya sinergi nyata. Unpatti pun siap membuka akses penuh bagi jajaran kementerian untuk meninjau langsung kondisi Marine Station sebagai basis pengembangan program ke depan. (HT-01)











