AMBON,HT.—Pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA-646 dari Jakarta menuju Ambon, sempat gagal mendarat di Bandar Udara Pattimura Ambon, Kamis (5/2/2026) sore.
Pesawat tersebut seharusnya mendarat di Bandara Pattimura pada pukul 15.10 WIT. Namun, akibat angina kencang, pesawat akhirnya berputar di udara sekitar 30 menit.
Sejumlah pejabat Maluku berada dalam pesawat tersebut, antara lain Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, dan anggota DPR daerah pemilihan Maluku, Saadiah Uluputty. Juga terdapat Richard Joost Lino atau R.J. Lino, dan investor asal Amerika Serikat yang datang bersama Gubernur Maluku.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Detik-detik pesawat Garuda gagal mendarat itu, direkam oleh Saadiah Uluputty mengguanakan telepon genggam. Kader PKS tersebut kemudian membagikan saat-saat menegangkan itu di laman Facebooknya.
Berikutnya, penuturan Saadiah Uluputty di akun Facebook pribadinya.
~ Gagal mendarat karena angin kencang ~
Sore ini, pesawat Garuda Indonesia kembali terlambat mendarat dan bahkan gagal mendarat 3 kali di Bandara Pattimura. Penerbangan GA – 646 dari Jakarta menuju Ambon yang harusnya memdarat jam 15.10 ternyata harus berputar naik karena angin kencang sebagaimna diberitakan pilot dari ruang kemudi. Didalam Pesawat ada juga pak Hendrik Gubernur Maluku, RJ Lino dan investor dan Amerika yang juga sama sama saling berdekatan.
Pengumuman dari kokpit terdengar, “Mohon maaf, dikarenakan angin kencang, kita akan melakukan holding selama 20 sampai 30 menit di atas udara Ambon. Dan 5 menit mengusahakan mencari posisi mendarat”. Saya menyandarkan kepala ke kursi. Kalimat itu terasa seperti deja vu yang menyesakkan.
Ini adalah kali kedua saya mengalami keterlambatan mendarat di Bandara Pattimura dalam kurun waktu yang berdekatan, dan keduanya dengan maskapai yang sama.
Dalam kondisi seperti ini saya berusaha untuk tenang dan bertasbih membaca asmaul husna dan memuji Allah karena Allah yang Maha Kuasa atas hambaNya.
Dua puluh menit berlalu, lalu bertambah menjadi empat puluh. Pesawat terus berputar (orbiting) di atas laut. Penumpang lain mulai gelisah, namun saya hanya bisa menatap hamparan laut biru di bawah sana—sumber kekayaan Maluku yang luar biasa, namun terkadang menjadi tantangan besar dalam konektivitas.
Minggu kemarin karena usaha untuk landing dari arah laut tidak tercapai akhirnya kami landing menuju arah ke laut. Tiga kali pesawat berputar untuk menunggu saat yang tepat agar bisa landing dengan tenang.
Akhirnya, roda pesawat menyentuh landasan dengan dentuman halus. Para penumpang ramai menepuk tangan, tapi saya mengucapkan Hamdallah, menghaturkan rasa syukur atas setiap peristiwa dan penjagaanNya.
Ini semua bagian dari perjuangan yang menjadi cerita cerita perjalanan saya antara Ambon dan Jakarta. Mudah mudahan setiap langkah dan perjuangan ini membawa manfaat dan kebaikan bagi saya pribadi dan juga Maluku tercinta. (HT-01)










