Oleh : Abu Rery (Pengajar dan Penggerak BMI)
“Di kota ini, orang bisa lupa tanggal. Tetapi mereka jarang lupa jadwal pertandingan Piala Dunia.”
Piala Dunia Sebagai Identitas Kolektif Orang Ambon
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Saat tulisan ini dibuat, di waktu yang bersamaan ratusan pendukung Argentina tengah berkumpul di kawasan Bundaran J. Leimena. Mereka melakukan konvoi sekaligus mendeklarasikan dukungan kepada tim yang berjuluk Albiceleste.
Bendera-bendera biru putih berkibar di sepanjang jalan, nyanyian dan teriakan dukungan menggema, sementara wajah-wajah penuh antusiasme memperlihatkan satu hal: bagi sebagian masyarakat Ambon, Argentina bukan sekedar sebuah negara yang berada ribuan kilometer jauhnya, melainkan bagian dari identitas sepak bola yang telah mereka peluk selama bertahun-tahun.
Menjelang turnamen empat tahunan itu, Ambon perlahan berubah wajah, dari wajah kota musik menjadi wajah kota sepakbola. Bendera negara-negara yang tampil dalam ajang empat tahunan sekali itu muncul di sudut-sudut kampong.
Mulai dari Argentina, Brazil, hingga Portugal berdiri dengan gagah di depan rumah, tempat-tempat umum mulai dari warung kopi yang isinya bapak-bapak yang setiap harinya berbicara politik kemudian berganti menjadi tema-tema bola, negara mana yang kuat, yang masuk final bahkan sudah ada yang memprediksi anak-anak muda mana yang bersinar dalam perhelatan empat tahunan ini.
Mulai dari anak muda sampai orang tua, laki-laki maupun perempuan berbicara dalam Bahasa yang sama : sepak bola.
Ambon seolah memiliki satu hari raya baru. Hari raya yang tidak tercantum dalam kalender nasional, tidak pula ditetapkan oleh negara. Namun perayaannya begitu nyata. Hari raya itu bernama Piala Dunia.
Kecintaan orang Maluku terhadap sepak bola tidak hadir dalam ruang kosong. Ia tumbuh dari sejarah panjang hubungan masyarakat Maluku dengan olahraga tersebut.
Di banyak kampung di Maluku, sepak bola bukan hanya hiburan sore hari, melainkan menjadi bagian dari kehidupan sosial, contohnya di Ambon sepak bola sering menjadi alasan orang keluar rumah dan berkumpul.
Lapangan bola bukan hanya tempat pertandingan berlangsung, tetapi juga ruang sosial tempat warga bakudapa (bertemu) dan mempererat hubungan antarwarga. Nama-nama seperti Alfin Tuasalamony, Rizky Pellu, hingga Hendra Bayauw lahir dari tradisi panjang itu.
Saat ada turnamen antar kampung, seluruh masyarakat ikut terlibat; ada yang menjadi pemain, pelatih, pendukung, penjual makanan hingga panitia. Lapangan menjadi ruang perjumpaan.
Pertandingan antar kampung menjadi kebanggan bersama. Misalnya dalam turnamen Tarkam, nama kampung dipertaruhkan bersama. Ketika tim kampung masuk semifinal atau final, pembicaraan tentang pertandingan bisa mengalahkan topik politik maupun harga pasar.
“Besok dong main, jang lupa datang dukung!” menjadi ajakan yang beredar dari rumah ke rumah. Saat tim mencetak gol, satu kampung bersorak. Ketika menang, pemain yang pulang ke kampung disambut bak pahlawan kecil yang telah mengharumkan nama daerahnya.
Karena itu, ketika Piala Dunia hadir, masyarakat Ambon tidak merasa sedang menyaksikan peristiwa yang jauh di Amerika, Eropa atau bahkan Timur Tengah. Mereka merasa menjadi bagian dari peristiwa tersebut.
Tulisan Prof. Hermien Soselisa dan Wellem Sihasale yang berjudul “Orang Ambon, Nasinalisme dan Piala Dunia ;Kajian tentang Karakter Budaya dan Pemosisian Orang Ambon dalam Ruang Nasional dan Global”, menyajikan ulasan yang menarik.
Menurut Soselisa dan Sihasale, fanatisme berlebihan kepada timnas, terutama Belanda dalam dunia sepak bola tidak dapat dilepaskan dari jejak sejarah yang panjang. Hubungan tersebut berawal dari pengalaman colonial yang selama berabad-abad membentuk proses akulturasi dan asimilasi antara masyarakat Maluku dan Belanda.
Ikatan itu kemudian diperkuat oleh migrasi ribuan orang Maluku ke Belanda pada 1951 yang melahirkan komunitas diaspora yang kini telah memasuki generasi keempat.
Masih menurut Prof, Hermein Soselisa , meski terpisa oleh jarak , hubungan antara diaspora Maluku di Belanda dan keluarga mereka di kampung-kampung tetap terjaga melalui berbagai interaksi sosial dan kultural.
Dalam konteks sepak bola, relasi historis dan kekeluargaan tersebut melahirkan kedekatan emosional dengan tim nasional Belanda, terlebih ketika jumlah pemain Belanda memiliki garis keturunan Maluku.
Akibatnya, dukungan terhadap tim Belanda di Maluku tidak hanya lahir dari kekaguman terhadap kualitas permainan mereka, tetapi juga dari perasaan kedekatan sejarah, identitas, dan ikatan persaudaraan yang telah terbangun lintas generasi.
Memori Tentang Kaka Sani dan Ingatan Kolektif Sepak Bola Orang Maluku
Memori kita saat mendengar nama Sani Tawainella mengingatkan kita bahwa pada masa konflik Maluku, ketika masyarakat terpecah oleh identitas agama dan kelompok, ada orang-orang yang menjadikan sepak bola sebagai jalan pengalihan dari kerusuhan yang pernah terjadi.
Sani mengajak anak-anak yang hidup di tengah konflik untuk berlari mengejar bola, bukan mengejar musuh. Ia mengubah energi kekerasan menjadi energi permainan.
Yang lebih menarik, sepak bola berhasil melakukan sesuatu yang sulit dilakukan oleh pidato-pidato politik. Ia mempertemukan anak-anak Tulehu dan Passo, komunitas Islam dan Kristen, dalam satu tim yang sama. Mereka tidak lagi bermain sepak bola sebagai wakil agama atau kampung masing-masing, tetapi sebagai wakil Maluku.
Dalam satu bagian dari scane film Cahaya Dari Timur, menjelaskan ingatan kita yang paling menyentuh dilakukan Kaka Sani, adalah saat ia bagaimana Sani Tawainella menyentuh hati anak-anak itu dengan sebuah pertanyaan.
“Se, Dari Mana?
Jawaban yang ia inginkan bukanlah Tulehu atau Passo, bukan pula Islam atau Kristen.
“Maluku, Kaka.”
Di situlah letak kekuatan sepak bola bagi masyarakat Ambon. Ia menciptakan identitas yang lebih besar daripada identitas-identitas yang memisahkan. Ia membentuk rasa “Katong” yang melampaui sekat-sekat sosial.
Mungkin karena pengalaman sejarah itulah masyarakat Ambon merayakan sepak bola dengan cara yang berbeda. Ketika Piala Dunia berlangsung, yang dirayakan bukan hanya pertandingan yang dirayakan adalah rasa kebersamaan.
Orang-orang di teras rumah, di pos ronda, di warung kopi, atau di pinggir jalan jalan untuk menonton pertandingan yang sama. Mereka tertawa bersama, berdebat bersama, dan bersorak bersama.
Dalam konteks ini, Piala Dunia menjadi semacam ritual sosial. Ketika tim yang didukung meraih kemenangan, masyarakat Ambon mengekspresikannya melalui berbagai bentuk perayaan kolektif, mulai dari konvoi kendaraan, pengibaran bendera, hingga perkumpulan di ruang-ruang publik.
Euforia tersebut menunjukkan bahwa sepak bola telah melampaui hiburan dan berkembang menjadi medium pembentukan identitas sosial.
Kemenangan sebuah tim tidak hanya dirasakan oleh individu sebagai penggemar, tetapi juga oleh komunitas sebagai bagian dari pengalaman bersama yang memperkuat solidaritas, rasa memiliki, dan hubungan sosial di antara masyarakat.
Dalam konteks ini,sepak bola berfungsi sebagai arena tempat identitas, sejarah, dan kebersamaan di ekspresikan secara kolektif.
Karena itu, menyebut Piala Dunia sebagai “hari raya” mungkin bukanlah sebuah hiperbola.
Sebagaimana hari raya mempertemukan keluarga dan memperkuat ikatan sosial, Piala Dunia juga melakukan hal yang serupa bagi masyarakat Ambon. Ia menghadirkan ruang perjumpaan, memperkuat rasa kebersamaan, dan menghidupkan kembali identitas kolektif yang selama ini tumbuh melalui sepka bola.
Maka ketika bendera-bendera negara peserta berkibar di depan rumah-rumah warga Ambon, yang sebenarnya sedang berkibar bukan hanya kecintaan pada negara-negara peserta itu, yang sedang berkibar adalah ingatan kolektif yang telah lama menemukan dirinya melalui sepak bola.
Dan mungkin karena itulah, di Ambon, perayaan terbesar setelah hari-hari raya keagamaan selalu dating setiap empat tahun sekali. Perayaan itu bernama Piala Dunia.
Penutup : Perayaan Hari Raya itu Bernama Piala Dunia
Apa yang terjadi di Bundaran J. Leimena hari ini bukan sekadar tentang Argentina. Sebagaimana kibaran bendera Brazil, Belanda, Jerman, Portugal yang selalu menghiasi sudut-sudut kampung setiap musim Piala Dunia, yang sesungguhnya sedang dirayakan adalah kegembiraan kolektif untuk menjadi bagian dari peristiwa bersama.
Piala Dunia menghadirkan ruang di mana masyarakat Ambon dapat berkumpul, berbincang, berdebat, dan merayakan sesuatu secara bersama-sama.
Pada akhirnya, Piala Dunia di Ambon tidak dapat dipahami hanya sebagai sebuah turnamen sepak bola. Ruang budaya, sekaligus ruang ingatan yang mempertemukan masyarakat dalam satu kegembiraan bersama.
Di tengah berbagai perbedaan yang ada, sepak bola menghadirkan sesuatu yang seringkali sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari : rasa kebersamaan.
Mungkin karena itulah setiap empat tahun sekali Ambon selalu tampak berbeda. Jalan-jalan kampung berubah menjadi ruang perayaan, warung kopi menjadi arena diskusi, dan suara sorak dari berbagai penjuru kota menjadi penanda bahwa masyarakat sedang menikmati pesta yang sama.
Sebuah pesta yang tidak tercantum dalam kalender nasional, tetapi hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.
Di Warung kopi, perdebatan soal taktik dan susunan pemain bisa berlangsung berjam-jam.
“Beta bilang dari awal, pelatih musti kasih dia main dari babak pertama!” sahut seorang penonton setelah pertandingan usai. Yang lain langsung membalas “Ale Cuma lia hasil, kalo seng ada dia yang tahan bola di tengah, Belanda su kalah dari tadi.”
Ketika gol tercipta, suara teriakan serentak pecah dari berbagai rumah dan sudut kampung, bahkan orang yang tidak menonton pun sering tahu ada gol hanya dari gemuruh sorak terdengar.
Saat tim yang di dukung menang, jalanan dipenuhi konvoi kendaraan dengan bendera berkibar, klakson bersahutan, dan teriakan seperti, “Juaraa eee… Juara! Atau ucapan seperti : “Katong, su bilang dari awal, tahun ini Argentina, dong pung!” menjadi bagian dari perayaan yang menyatukan orang-orang dari berbagai usia dan latar belakang.
Sebab bagi orang Ambon, sepak bola bukan sekedar permainan. Ia adalah bagian dari cerita tentang siapa mereka. Ia tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi ruang tempat sejarah, memori, dan identitas sosial dipelihara serta diwariskan.
Ketika peluit akhir dibunyikan, pertandingan memang usai, tetapi cerita-cerita tentangnya terus hidup di rumah-rumah, di kampung-kampung, dan di antara generasi yang saling mewariskan kecintaan yang sama. Sebab bagi orang Ambon, sepak bola bukan sekedar permainan ia adalah bagian dari “Katong”, tentang persaudaraan, tentang kenangan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Dan di kota ini,setiap empat tahun sekali, cerita itu selalu menemukan perayaannya. Perayaan itu Bernama Piala Dunia.”









