AMBON, HEADLINETIMUR.COM — Krisis air bersih yang melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) terus berlanjut. Warga yang terdampak terpaksa merogoh kocek lebih dalam demi membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini, wilayah yang terdampak cukup parah meliputi Kecamatan Bula, Bula Barat, Seram Timur, Pulau Gorom, Gorom Timur, Kesui Watubela, dan Teor. Ribuan jiwa di kawasan tersebut kini mengalami krisis air akibat kemarau panjang yang terjadi sejak Juni lalu.
Di Kota Bula, data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten SBT mencatat ada 10 titik yang terdampak kekeringan. Wilayah tersebut di antaranya kawasan PLN Lama, Garuda Mas, Desa Wailola, Kelapa Dua, Desa Bula, Tumbu Parang, serta Kampung Gorom.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Di Kompleks Garuda Mas RT 01, Desa Administratif Kampung Wailola, warga terpaksa membeli air bersih seharga Rp65.000 hingga Rp70.000 per tong berkapasitas 1.200 liter. Air tersebut rata-rata hanya bertahan 2–3 hari untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan buang air besar.
“Iya benar, air satu tong itu kadang hanya cukup untuk 2–3 hari. Jadi dalam seminggu kami bisa membeli sampai 2–3 tong air bersih,” ungkap Dino, salah seorang warga di Lorong Garuda Mas 1.
Artinya, Dino dan keluarganya harus mengeluarkan biaya hingga Rp195.000 per minggu hanya untuk memenuhi kebutuhan air harian.
“Mungkin pengeluaran keluarga lain lebih sedikit, tergantung jumlah anggota keluarga dan pemakaian. Namun yang jelas, kekeringan akibat El Nino ini sangat memberatkan keluarga kami,” jelasnya.
Indah menambahkan, kawasan Garuda Mas 1 memang sangat rentan dilanda kekeringan. Selama ini, sejumlah warga mengandalkan sumur galian yang ditarik menggunakan mesin pompa air.
Namun, sumur belasan meter tersebut telah mengering sejak pertengahan Juni, begitu pula dengan sungai di sekitar kawasan permukiman.
Meskipun sejumlah pihak seperti Polres, DPD PKS, anggota DPR RI Dapil Maluku Alimudin Kolatlena, hingga BPBD telah menyalurkan bantuan, penanganan tersebut dinilai belum optimal karena bantuan air gratis hanya datang sekali.
Menurut Dino, Pemerintah Daerah (Pemda) seharusnya bisa mengambil langkah strategis dengan mengalirkan air dari sumber terdekat, seperti Sungai Nama Timur, untuk dibagikan kepada warga.
Sayangnya, debit air Sungai Nama Timur yang konon tak pernah kering itu justru dimanfaatkan oleh segelintir oknum sebagai komoditas bisnis yang menguntungkan di tengah penderitaan warga.
“Sungai itu sumber daya alam yang mestinya dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat, bukan diperjualbelikan saat krisis air seperti ini. Parahnya lagi, fenomena ini terjadi setiap tahun,” tegas Indah.
Ia juga mengingatkan Pemda terkait imbauan BMKG Stasiun Klimatologi Maluku yang memprediksi puncak musim kemarau di SBT masih akan berlangsung hingga September. Hal ini menandakan krisis air bersih masih berpotensi berlanjut selama sebulan ke depan.
“Artinya, selama sebulan ke depan kami masih harus terus membeli air. Kami sangat berharap Pemda dapat menyalurkan air bersih secara rutin untuk mengurangi beban warga,” pungkasnya. (HT-01)











