AMBON, HEADLINETIMUR.COM – Sebagai wujud komitmen memperkuat pembangunan yang inklusif dan berkeadilan, Fase II Program INKLUSI-Rumah Generasi resmi menggelar kegiatan Penguatan Kelompok Kerja (Pokja) Inklusi di Hotel Golden Palace, Senin (22/6/2026).
Forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat jejaring, koordinasi, dan kolaborasi dalam mewujudkan komunitas yang aman, tangguh, dan inklusif.
Kegiatan ini diikuti oleh para pendamping kekerasan terhadap perempuan dan anak (KTP/A) serta pendamping perlindungan sosial (Perlinsos) dari 10 desa/negeri dampingan baru bentukan tahun 2026.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Untuk membekali para peserta, kegiatan ini menghadirkan tiga pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kota Ambon sebagai narasumber utama.
Kepala Dinas Sosial Kota Ambon, drg. Wendy Pelupessy, mengupas strategi memperluas akses masyarakat rentan terhadap program bantuan sosial (bansos) dan layanan dasar. Beliau juga menekankan pentingnya peran Pokja dalam pendampingan langsung di lapangan.
Sedangkan Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Hanny Meila Seconova Tamtelahittu, memaparkan pentingnya administrasi kependudukan (Adminduk) sebagai fondasi perlindungan sosial.
Dalam sesi ini, dirumuskan strategi percepatan kepemilikan dokumen bagi kelompok rentan guna mendukung pemutakhiran data desa.
Sementara Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Masyarakat Desa (P3AMD), Meggy M. Lekatompessy, menekankan pentingnya membangun mekanisme perlindungan perempuan dan anak berbasis masyarakat.
Ia mengajak Pokja untuk mengintegrasikan isu Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) ke dalam perencanaan pembangunan desa.
Pentingnya Validitas Data dan Isu Perubahan Iklim
Koordinator Program INKLUSI – Yayasan Rumah Generasi, R. Jemmy Talaku, menegaskan bahwa ketersediaan data yang akurat, terpilah, dan responsif gender adalah modal utama agar kebijakan desa bisa tepat sasaran.
“Data inklusif ini diharapkan dapat membantu pemerintah desa/negeri dan pemangku kepentingan dalam mengambil keputusan yang lebih efektif dan berkeadilan,” ujar Jemmy.
Sedangkan Program Officer-Inklusi Yayasan Rumah Generasi, Sofia Siahaya, mengajak peserta untuk aktif mengintegrasikan perspektif inklusi ke dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di tingkat lokal.
Untuk mengasah keterampilan praktis peserta, sesi sharing knowledge menghadirkan tiga penggerak senior Pokja Inklusi yang telah sukses di lapangan yakni Merry Wattilete (Ketua Pokja Inklusi Gosepa-Desa Galala),
Nikolas Defretes (Ketua Advokasi Pokja Inklusi Tihulessy-Negeri Hukurila), dan Ampi Tahalea (Koordinator Pangkalan Data-Desa Hunuth).
Mereka membagikan kisah sukses mulai dari mendampingi kasus kekerasan, mengadvokasi akses layanan dasar, hingga mengelola pangkalan data desa berbasis perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (SIG).
Ke depan, Yayasan Rumah Generasi akan melanjutkan program ini lewat penguatan langsung di masing-masing desa/negeri.
Langkah ini diharapkan mampu memastikan seluruh kelompok masyarakat—termasuk perempuan, anak, penyandang disabilitas, dan lansia—mendapatkan hak dan akses yang setara dalam pembangunan di Kota Ambon. (HT-01)









