AMBON, HEADLINETIMUR.COM – Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap delapan korban hilang akibat kecelakaan speedboat rute Sinairusi–Tepa di perairan Pulau Babar, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), resmi dihentikan setelah memasuki hari kesembilan.
Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Ambon menghentikan operasi ini sesuai prosedur yang berlaku. Keputusan diambil setelah seluruh upaya pencarian maksimal yang dikerahkan selama sembilan hari berturut-turut belum membuahkan hasil.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Ambon, Muhamad Arafah, menjelaskan bahwa selama operasi berlangsung, tim gabungan telah menyisir area laut dan memantau sejumlah titik krusial secara intensif.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
“Seluruh unsur yang terlibat telah bekerja maksimal dengan mengerahkan personel, armada laut, serta dukungan berbagai pihak. Namun hingga batas waktu operasi berakhir, delapan korban belum berhasil ditemukan,” ujar Arafah dalam rilis resminya, Sabtu (20/6/2026).
Operasi kemanusiaan ini melibatkan sinergi dari berbagai unsur, mulai dari Basarnas Ambon, TNI AL, Polairud, BPBD, pemerintah daerah, hingga nelayan dan masyarakat setempat yang bahu-membahu sejak hari pertama kejadian.
Meski operasi SAR resmi ditutup, Arafah menegaskan pihaknya tetap melakukan pemantauan pasif.
Basarnas akan terus berkoordinasi dengan pemda, aparat keamanan, dan masyarakat pesisir. Jika ke depan ditemukan tanda-tanda atau informasi baru terkait keberadaan korban, operasi dapat ditindaklanjuti kembali.
Sementara itu, Bupati MBD, Benyamin Thomas Noach, menyampaikan apresiasi dan penghormatan setinggi-tingginya kepada seluruh unsur SAR gabungan atas dedikasi dan kerja keras mereka.
Di tengah penghentian operasi ini, suasana haru masih menyelimuti keluarga korban yang terus menanti kepastian.
Bupati Noach pun mengajak masyarakat untuk memberikan dukungan moral agar keluarga korban kuat menghadapi masa-masa sulit ini.
“Atas nama pemerintah daerah dan seluruh masyarakat MBD, kami menyampaikan rasa duka yang mendalam. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan kekuatan, ketabahan, dan penghiburan kepada seluruh keluarga yang terdampak musibah ini,” ungkap Benyamin Noach.
Meski pencarian fisik di laut telah berakhir, solidaritas, kepedulian, serta doa dari masyarakat dan keluarga dipastikan akan terus mengalir bagi para korban yang belum ditemukan.
Diberitakan sebelumnya, speedboat berpenumpang 10 orang tersebut bertolak dari Desa Sinairusi menuju Pulau Tepa pada Kamis (11/6/2026). Dalam perjalanan, kapal cepat ini dihantam cuaca buruk hingga tenggelam di sekitar perairan Pulau Dai.
Dua penumpang dilaporkan selamat dalam insiden tersebut, yakni Yakop Anamofa (23) dan Ignasius Matrunkoly (42).
Sedangka delapan penumpanh yang belum ditemukan ialah Anton Menahem (40), Asael Daniel (72), Yomima Waliana (36), Regina Unwakolu (33), Enderfina Siaran (62),
Wulan Kelmury (35), Yoksan Unawekla (9), dan Marcelo Unawekla (4).









