AMBON, HEADLINETIMUR.COM – Pemerintah Provinsi Maluku terus membuka pintu investasi seluas-luasnya bagi dunia usaha dan investor internasional. Langkah ini diambil untuk mengoptimalkan berbagai potensi ekonomi daerah agar mampu menjadi kekuatan ekonomi baru di tingkat nasional maupun global.
Staf Ahli Gubernur Maluku Bidang Pembangunan, Ekonomi, dan Keuangan, Umar Alhabsy, menegaskan bahwa komitmen ini telah disampaikan langsung dalam Forum Harmony Indonesia 1881 di Cibubur, Bogor, pekan lalu.
Dalam forum internasional tersebut, Gubernur Hendrik Lewerissa menekankan pentingnya mengenalkan keunggulan Maluku sebagai provinsi kepulauan yang menjadikan laut sebagai ruang hidup sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
“Wilayah Maluku mencapai sekitar 712.498 kilometer persegi, dengan 93,5 persen di antaranya berupa perairan. Terdiri dari 1.422 pulau dan garis pantai sepanjang 10.914 kilometer, kondisi geografis ini adalah modal besar untuk pengembangan ekonomi berbasis kelautan, pertanian, pariwisata, hingga energi terbarukan,” ujar Umar melalui keterangan tertulisnya, Minggu (23/8).
Dalam pemaparannya, Pemprov Maluku menawarkan empat sektor utama yang dinilai memiliki prospek investasi besar.
Sektor kelautan dan perikanan tersebar di tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP 714, 715, dan 718) yang mencakup Laut Banda, Arafura, dan Seram. Komoditas utamanya meliputi tuna, cakalang, dan tongkol.
Selain perikanan tangkap, potensi budidaya laut mencapai 158 ribu hektar dan baru dimanfaatkan sekitar 3.816 hektar. Peluang investasi terbuka lebar pada pengolahan, cold chain (rantai dingin), pengalengan, dan penerapan teknologi modern.
Di sektor pertanian dan modernisasi rempah, mengembalikan kejayaan Maluku sebagai Kepulauan Rempah melalui komoditas pala dan cengkeh. Strategi diarahkan pada penguatan standardisasi mutu, branding, hilirisasi, dan pengembangan produk turunan bernilai tambah untuk pasar ekspor.
Selain itu, Maluku juga memiliki destinasi unggulan seperti Banda Neira, Kepulauan Kei, Pantai Ora, Ngurbloat, Ngurtafur, dan Pulau Bair menjadi aset berdaya tarik internasional. Peluang investasi meliputi pembangunan akomodasi, transportasi antarpulau, hingga pengembangan desa wisata.
Sedangkan karakter wilayah kepulauan membuka peluang bagi energi mandiri berbasis tenaga surya, angin, mikrohidro, biomassa, panas bumi, hingga energi laut.
Proyek Strategis Jadi Penggerak Ekonomi
Selain empat sektor utama, Pemprov Maluku juga memaparkan sejumlah proyek strategis pendukung transformasi ekonomi daerah, antara lain pengembangan Blok Masela, Maluku Integrated Logistics Hub (MILH), revitalisasi pariwisata Banda, Bendungan Way Apu, serta program hilirisasi pala dan kelapa.
Umar menegaskan, seluruh proyek strategis tersebut tidak boleh berhenti sebatas pembangunan fisik semata.
Melalui kemitraan yang inklusif dan berkelanjutan, Pemprov Maluku optimistis kekayaan alam daerah yang selama ini belum tergarap maksimal dapat bertransformasi menjadi rantai ekonomi bernilai tinggi demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Proyek strategis harus menjadi pengungkit terbentuknya rantai nilai, menciptakan lapangan kerja baru, memperkuat UMKM dan industri lokal, serta menghubungkan Maluku secara langsung dengan pasar nasional maupun global,” tegasnya. (ZAP)











