AMBON, HEADLINETIMUR.COM — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku mencatat kinerja ekspor daerah ini menunjukkan tren positif secara kumulatif.
Sepanjang periode Januari hingga Juli 2026, nilai ekspor Maluku tercatat mencapai Rp591,84 miliar (33,37 juta dolar AS), atau mengalami kenaikan sebesar 17,86 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025.
Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia, mengungkapkan bahwa seluruh realisasi pengiriman barang ke luar negeri selama periode tersebut sepenuhnya berasal dari sektor nonmigas.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
“Seluruh nilai ekspor Maluku berasal dari komoditas nonmigas. Meskipun secara bulanan pada Juli 2026 mengalami penurunan dibanding tahun lalu, performa kumulatif ekspor kita sepanjang tahun ini masih mencatatkan pertumbuhan positif,” ujar Kepala BPS Maluku dalam keterangan resminya, Senin (1/9/2026).
Secara bulanan, nilai ekspor Maluku pada Juli 2026 tercatat sebesar Rp86,90 miliar ( 4,90 juta dolar AS). Angka ini turun 5,32 persen jika dibandingkan dengan capaian ekspor Juli 2025 yang senilai Rp91,87 miliar.
Lonjakan Impor dan Tekanan Neraca Perdagangan
Di sisi lain, BPS Maluku juga melaporkan perkembangan pada transaksi impor luar negeri. Nilai impor Maluku secara kumulatif dari Januari hingga Juli 2026 menyentuh Rp8,04 triliun (453,87 juta dolar AS), melonjak 142,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Khusus untuk bulan Juli 2026, nilai impor Maluku mencapai Rp974,76 miliar (54,96 juta dolar AS), naik signifikan 213,84 persen dibanding Juli 2025 yang tercatat Rp310,55 miliar.
“Secara kumulatif, nilai impor Maluku periode Januari hingga Juli 2026 telah menyentuh Rp8,04 triliun. Angka ini naik drastis jika dibandingkan periode sama tahun lalu, di mana pasokan mencakup komoditas migas maupun nonmigas,” jelasnya.
Tingginya aktivitas impor tersebut berdampak langsung pada posisi neraca perdagangan luar negeri Maluku yang mencatatkan defisit sebesar Rp7,45 triliun (420,51 juta dolar AS) selama Januari hingga Juli 2026.
Defisit ini didorong oleh ketimpangan pada dua sektor, yakni defisit sektor nonmigas sebesar Rp95,77 miliar dan defisit sektor migas yang mencapai Rp7,36 triliun. (HT-01)











