AMBON, HEADLINETIMUR.COM — Puluhan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh pemuda yang tergabung dalam Forum Peduli Seram Barat (FPSB) menggelar pertemuan untuk membahas persoalan kemanusiaan antara warga Negeri Lisabata dan Patahuwe, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).
Pertemuan yang dihelat di Coffee Ujung Jembatan Merah Putih (JMP) pada Minggu (13/9/2026) ini dihadiri sejumlah tokoh yang berdomisili di Kota Ambon. Di antaranya Levinus Kariuw selaku inisiator, AKBP (Purn) Bachri Hehanussa, Dr. Manaf Tubaka, Turaya Samal, Ija Waliulu, Rektor UIN Ambon Prof. Dr. Abidin Wakano, Dr. Natanel Elake, akademisi sekaligus Kepala Balai Diklat Keagamaan Ambon Abdullah Patty, Ketua Iksamuni Irwan Patty, tokoh muda Lisabata Farul Pattilouw, serta tokoh muda Patahuwe David Katayane.
Dalam pertemuan perdana yang diharapkan menjadi embrio “Seram Barat Bersatu” di tanah rantau ini, para tokoh menyampaikan berbagai masukan dan saran agar persoalan tersebut segera menemukan titik terang menuju perdamaian. Langkah ini juga penting untuk mencegah agar konflik tidak meluas, apalagi mengarah pada isu agama.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Pertemuan yang berlangsung dengan mengutamakan prinsip kekeluargaan ini turut mendata kebutuhan mendesak warga terdampak untuk segera disalurkan.
Djufri Pattilow mengharapkan adanya atensi khusus yang mengarah pada perdamaian. “Semoga pertemuan ini selain dapat melakukan aksi sosial, juga dapat melahirkan perdamaian,” harapnya.
Kehadiran para tokoh SBB ini diharapkan memberikan kontribusi positif dalam menyelesaikan persoalan agar tidak berlarut-larut.
“Beta harapkan kita jangan pantau media sosial, karena tidak akan menyelesaikan masalah di sana. Kehadiran kita untuk menyelesaikan persoalan,” pinta Turaya Samal.
Rektor UIN Ambon Abidin Wakano turut mengajak seluruh pihak agar momen ini melahirkan kontribusi nyata. “Mari kita baku keku sama-sama untuk baku bantu basudara pung susah di sana,” ajaknya.
Menurutnya, pertemuan hari ini memiliki spirit yang sama, yaitu penghentian kekerasan. Ia menegaskan tidak boleh ada lagi masyarakat yang menjadi korban kekerasan.
“Yang kedua, aparat negara harus ke sana untuk menjaga masyarakat dan memberikan rasa aman. Kemudian membangun perdamaian serta rekonstruksi sosial masyarakat yang menjadi korban. Mari kita baku keku, baku tolong. Mari kita datang ke keluarga yang terluka,” ujarnya.
Prof. Abidin juga menginginkan forum ini membicarakan berbagai aspek yang berpotensi mengarah pada konflik antarwarga demi melihat akar persoalan, sehingga konflik serupa tidak lagi terjadi, khususnya di SBB.
“Setelah ini, mari kita bicarakan akar-akar masalah yang terjadi di SBB. Kemudian, penegakan hukum harus segera berproses, dan kita berharap tidak ada yang terprovokasi. Pertemuan ini diharapkan bukan saja untuk isu konflik, tapi juga isu-isu yang lain,” pungkasnya.
Levinus Kariuw selaku inisiator pertemuan berharap ada aksi nyata sebagai bentuk dukungan moril dari anak-anak negeri SBB. Ia mendorong para tokoh SBB di Ambon untuk bahu-membahu menyalurkan bantuan kepada para korban sebagai bentuk kepedulian sosial sesama anak Seram Barat.
Rencananya, FPSB akan menyalurkan bantuan sosial sekaligus mendorong rehabilitasi korban. FPSB juga menyerukan penghentian segala bentuk provokasi, baik di Lisabata dan Patahuwe maupun di SBB secara umum.
Selain itu, aparat keamanan diminta hadir untuk menegakkan hukum dan menuntaskan persoalan hingga ke akar-akarnya, serta pemerintah diharapkan hadir memberikan rasa aman di tengah masyarakat. (HT-01)








