AMBON, HEADLINETIMUR.COM — Yayasan Rumah Generasi melalui Program INKLUSI berkolaborasi dengan SMP Negeri 19 Ambon memperkuat penyelenggaraan pendidikan inklusif di Kota Ambon melalui Pelatihan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif yang digelar pada 21–23 September 2026.
Kegiatan yang berlangsung di SMP Negeri 19 Ambon ini melibatkan perwakilan dari 10 sekolah inklusif tingkat SD dan SMP, orang tua anak berkebutuhan khusus (ABK), Dinas Pendidikan Kota Ambon, serta ULD Pendidikan.
Langkah ini dilatarbelakangi oleh kesadaran bahwa pendidikan inklusif memerlukan penguatan komprehensif, mulai dari pemahaman guru, proses pembelajaran, penyediaan akomodasi yang layak, hingga dukungan kuat terhadap peserta didik dengan kebutuhan belajar yang beragam.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT

Rangkaian kegiatan diawali pada 21 September 2026 dengan sosialisasi bagi orang tua ABK yang dipimpin oleh Koordinator Program INKLUSI, Jemmy Talakua. Sesi ini menekankan pentingnya peran orang tua sebagai mitra strategis sekolah dalam membangun komunikasi serta berbagi informasi mengenai kebutuhan anak.
Memasuki hari kedua, 22 September 2026, fokus kegiatan beralih pada pelatihan praktis bagi guru-guru perwakilan dari 10 sekolah inklusif. Materi difasilitasi oleh Tim Program INKLUSI Yayasan Rumah Generasi bersama dua guru terlatih pendidikan inklusif tingkat mahir.

Wakil Direktur Yayasan Rumah Generasi, Okto Pattikawa, memberikan apresiasi tinggi kepada SMP Negeri 19 Ambon atas komitmennya dalam merangkul sekolah-sekolah lain untuk bersama-sama memajukan pendidikan inklusif di Kota Ambon.
Dalam sesi praktik, para guru dilatih menggunakan format identifikasi dan asesmen, menyusun capaian serta tujuan pembelajaran, membuat Program Pendidikan Individual (PPI), hingga melakukan modifikasi kurikulum yang sesuai dengan kondisi anak berkebutuhan khusus.
Dari Ruang Pelatihan Menuju Ruang Kelas
Menutup rangkaian kegiatan pada 23 September 2026, Kepala SMP Negeri 19 Ambon, Novy Gaspersz, berharap agar pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan para guru dapat diterapkan langsung di sekolah masing-masing dan dibagikan kepada rekan sejawat.
Salah satu guru peserta mengungkapkan bahwa pelatihan tersebut memberikan sudut pandang baru dalam memfasilitasi seluruh siswa secara adil.
“Kami mempelajari banyak hal, termasuk bagaimana mengidentifikasi kebutuhan belajar murid yang beragam dan melakukan penyesuaian pembelajaran sehingga dapat mengakomodasi kebutuhan siswa berkebutuhan khusus,” ujarnya.
Melalui sinergi antara guru yang adaptif, sekolah yang terbuka, keterlibatan orang tua, serta dukungan pemerintah dan layanan terkait, penguatan ini diharapkan mampu mewujudkan ekosistem pendidikan inklusif yang nyata di Kota Ambon. Bukan sekadar konsep, melainkan pengalaman belajar yang dirasakan langsung oleh setiap anak di ruang kelas. (HT-01)








