AMBON, HEADLINETIMUR.COM – Sebuah unggahan viral di media sosial mengenai kondisi memprihatinkan satu keluarga di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), mengetuk pintu hati jajaran kepolisian setempat. Unggahan tersebut menjadi pemantik aksi kemanusiaan yang diinisiasi oleh Kepolisian Resor (Polres) SBT.
Informasi digital mengenai keluarga yang hidup di hunian tak layak itu langsung direspons cepat oleh Kapolres SBT, AKBP Alhajat. Ia segera menerjunkan jajaran Bhabinkamtibmas untuk melakukan verifikasi faktual di lapangan.
Namun, fakta yang ditemukan petugas di lapangan justru jauh lebih memprihatinkan ketimbang narasi yang beredar di media sosial.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Petugas Bhabinkamtibmas mendapati gubuk sempit berukuran sekitar 3×3 meter di Desa Bula. Gubuk itu dihuni oleh pasangan suami istri, Bahrum Ohoirat dan Hasti Sula, bersama delapan anak mereka. Rumah tersebut hanya beratapkan seng tua dan lembaran terpal yang telah berkali-kali ditambal demi menahan rembesan air hujan.
“Kami mendapatkan informasi dari media sosial. Setelah diverifikasi oleh anggota Bhabinkamtibmas, ternyata benar keluarga ini hidup dalam kondisi yang sangat memerlukan bantuan,” ujar Kapolres SBT, AKBP Alhajat, Senin (22/6/2026).
Melihat sepuluh nyawa harus berjejal di dalam ruangan yang sangat terbatas, AKBP Alhajat bersama jajarannya bergerak cepat.
“Hati kami tersentuh melihat langsung kondisi rumah mereka. Delapan anak tinggal dalam ruang yang sangat sempit dan tidak layak. Sebagian bahkan harus tidur di dekat dapur,” ungkapnya.
Bergerak atas dasar kemanusiaan, personel Polres SBT secara spontan mengumpulkan donasi sukarela secara swadaya. Gerakan ini murni lahir dari empati mendalam para anggota polisi tanpa adanya paksaan.
“Atas dasar kemanusiaan, kami berinisiatif membangun rumah yang lebih layak agar keluarga ini dapat hidup dengan lebih nyaman,” jelas Kapolres.
Hampir setengah dari kekuatan personel Polres SBT turun langsung ke lapangan. Mereka melepas seragam dinas sejenak, bergantian mengangkat material, dan bahu-membahu mengerjakan pembangunan rumah tersebut.
“Alhamdulillah, pembangunan rumah dapat diselesaikan dengan baik. Hampir setengah dari personel Polres SBT ikut terlibat aktif dalam pengerjaannya,” tutur Alhajat.
Ia membeberkan bahwa hunian baru ini menjadi tonggak sejarah baru, lantaran merupakan program bedah rumah pertama yang dilaksanakan oleh Polres SBT secara mandiri, dengan sumber pendanaan internal dari personel untuk masyarakat kurang mampu. Bagi Kapolres, eksistensi Polri harus melampaui tugas penegakan hukum semata.
Di tengah proses pembangunan rumah, Hasti Sula tak mampu menahan air matanya. Perempuan yang sehari-hari membantu perekonomian keluarga dengan berjualan kelapa seharga Rp5.000 per buah itu mengenang masa-masa sulit mereka.
Ia menceritakan, setiap kali hujan turun, malam-malam mereka selalu diisi dengan kepanikan karena atap terpal yang digunakan sejak tahun 2021 sudah robek dan hanya bisa ditambal seadanya.
“Kalau hujan, air masuk. Kita pasang terpal dari tahun 2021 sampai sekarang, tapi kondisinya bisa dilihat sendiri. Anak-anak delapan orang semua tidur di situ. Saya dan suami terpaksa tidur di ruang tamu yang sempit,” tutur Hasti dengan suara bergetar.
Hasti mengaku tidak pernah membayangkan keluarganya akan memiliki rumah yang layak. Selama ini, ia dan suaminya yang bekerja serabutan hanya fokus berjuang memeras keringat demi memenuhi kebutuhan dasar dan pendidikan anak-anak.
Keluarga Bahrum diketahui menetap di Desa Bula sejak 2021 setelah pindah dari Desa Sumber Agung demi menyekolahkan buah hati mereka.
Saat ini, dua dari delapan anak mereka telah menyelesaikan pendidikan SMA, sedangkan enam lainnya masih menempuh bangku sekolah.
“Beta hanya ibu rumah tangga yang jual kelapa, suami kerja serabutan. Terima kasih kepada bapak Kapolres dan semua anggota yang sudah bantu bedah rumah ini. Beta tidak bisa sebut satu per satu namanya,” ucap Hasti haru.
Kini, sebuah rumah layak huni telah berdiri tegak dan siap ditempati. Bagi Bahrum dan Hasti, bangunan ini bukan sekadar dinding papan, melainkan simbol harapan baru.
Mereka kini bisa bernapas lega melihat anak-anak dapat beristirahat dengan nyaman tanpa perlu khawatir kebasahan lagi di kala hujan.
“Semoga rumah ini membawa kenyamanan, kebahagiaan, dan menjadi tempat yang aman bagi anak-anak untuk tumbuh dan meraih masa depan yang lebih baik,” harap AKBP Alhajat. (HT)









