JAKARTA, HEADLINETIMUR.COM -Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat resmi menyepakati dokumen perjanjian perdagangan resiprokal bertajuk Implementation of the Agreement toward New Golden Age US-Indonesia Alliance, Jumat (20/2/2026).
Perjanjian tersebut diteken langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump. Dikutip dari Bisnis.com, dalam perjanjian itu, tertuang sejumlah komitmen kerja sama antara kedua negara yang melingkupi 11 nota kesepahaman (MoU), pembentukan dewan ekonomi permanen, penurunan tarif ribuan pos produk, hingga komitmen pembelian energi dan pesawat.
Penandatanganan dokumen utama bertajuk Implementation of the Agreement toward New Golden Age US–Indonesia Alliance dilakukan di Washington DC, menandai babak baru hubungan ekonomi dua negara yang selama ini ditopang perdagangan, investasi, dan kerja sama strategis Indo-Pasifik.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut perjanjian ini sebagai tonggak bersejarah dalam kemitraan RI–AS. Kedua kepala negara, ujarnya, menyampaikan kepuasan atas langkah cepat dan berkelanjutan yang ditempuh kedua pemerintahan.
“Perjanjian ini akan memperkuat keamanan ekonomi, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta secara berkelanjutan berkontribusi terhadap kemakmuran global,” kata Teddy.
Lebih jauh, Prabowo dan Trump menginstruksikan jajaran menteri untuk segera menurunkan kesepakatan tersebut ke dalam kebijakan teknis dan regulasi pendukung agar implementasinya berdampak nyata terhadap perekonomian.
Penandatanganan 11 MoU
Kesepakatan yang bertumpu pada Agreement of Reciprocal Trade (ART), kemudian diturunkan dalam 11 MoU sektoral. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut nilai keseluruhan MoU mencapai US$38,4 miliar atau sekitar Rp649,5 triliun.
Penandatanganan 11 MoU ini menjadi wujud konkret kolaborasi sektor pemerintah serta swasta kedua negara di berbagai bidang, mulai dari pertambangan dan hilirisasi, energi, agribisnis, tekstil dan garmen, hingga manufaktur furnitur dan pengembangan teknologi. Penandatanganan MoU dilakukan dalam forum Business Summit yang digelar US-ASEAN Business Council (US-ABC) di Gedung U.S. Chamber of Commerce, Washington DC dan disaksikan langsung Presiden Prabowo.
Berikut daftar 11 MoU yang diteken RI-AS:
1. Critical Mineral antara Kementerian Investasi dan Freeport-McMoRan bersama Freeport Indonesia.
2. Oilfield Recovery antara Pertamina dan Halliburton.
3. Agrikultur (Jagung) antara Cargill Indonesia dan Cargill Inc.
4. Cotton antara Busana Apparel Group dan U.S. National Cotton Council.
5. Cotton antara Daehan Global dan U.S. National Cotton Council.
6. Shredded Worn Clothing antara Asosiasi Garment dan Textile Indonesia, PT Pan Brothers, dan Ravel.
7. Furnitur antara ASMINDO dan Bingaman & Son Lumber.
8. Semikonduktor antara Galang Bumi Industri (GBI) dan Essence.
9. Semikonduktor antara GBI dan Tynergy Technology Group.
10. Transnational Free Trade Zone Friendship antara GBI dan Solanna Group LLC.
11. Wood Product antara HIMKI dan American Hardwood Export Council.
Airlangga menegaskan, kerja sama tersebut mencakup pembelian jagung, kapas, pakaian bekas cincang (shredded worn clothes), furnitur, hingga pengembangan oil field recovery dan hilirisasi silika menjadi silica ion untuk produksi semikonduktor.
Pembentukan Council of Trade and Investment Salah satu terobosan penting dalam ART adalah pembentukan Council of Trade and Investment, forum permanen bilateral untuk membahas isu perdagangan dan investasi.
Menurut Airlangga, dewan ini menjadi mekanisme pencegah konflik terbuka. Jika terjadi lonjakan tarif yang dinilai terlalu tinggi atau kebijakan yang berpotensi mengganggu neraca perdagangan, pembahasan akan dilakukan terlebih dahulu di forum tersebut.
Tujuan besarnya adalah membangun kemakmuran bersama melalui rantai pasok yang kuat, sembari tetap menghormati kedaulatan masing-masing negara. “Prinsip menghormati kedaulatan menjadi bagian dari perjanjian,” tegas Airlangga.
Dengan adanya dewan ini, relasi dagang RI–AS tidak lagi bersifat ad hoc, melainkan memiliki jalur diplomasi ekonomi yang terinstitusionalisasi.
Tarif 0% Produk RI Poin krusial lain dalam kesepakatan adalah penurunan tarif untuk sekitar 1.819 pos tarif produk Indonesia, baik pertanian maupun industri, menjadi 0%.
Produk tersebut meliputi minyak sawit, kopi, kakao, karet, komponen elektronik, semikonduktor, pesawat terbang, tekstil dan apparel. Adapun, untuk tekstil dan apparel, Indonesia mendapatkan fasilitas tarif 0% melalui mekanisme Tariff Rate Quota (TRQ).
Skema ini dinilai krusial bagi industri padat karya yang menyerap sekitar 4 juta pekerja. Di sisi lain, Indonesia juga memberikan tarif tarif 0% untuk produk AS yang akan masuk ke Indonesia. Bebas bea masuk ini untuk berlaku untuk produk turunan gandum dan kedelai.
Airlangga menyebut perjanjian ini “murni perdagangan” karena pasal nonekonomi seperti kerja sama reaktor nuklir dan isu Laut China Selatan dicabut dari dokumen akhir.
Perlindungan Tenaga Kerja dan Kedaulatan Ekonomi
Pemerintah merumuskan tiga prinsip utama dalam ART, yakni pertama melindungi Pekerja Indonesia. Kesepakatan ini melindungi 10 komoditas ekspor utama padat karya, antara lain:
2,7 juta tenaga kerja industri pakaian jadi 2 juta pekerja perikanan 962.800 pekerja industri kulit dan alas kaki 878.500 pekerja furnitur 611.700 pekerja industri karet 212.300 pekerja mesin dan perlengkapan 190.400 pekerja peralatan listrik.
Selain itu, pemerintah menegaskan pembelian tambahan dari AS, seperti energi dan pangan, dilakukan untuk menutup kekurangan domestik, bukan untuk menggantikan produksi dalam negeri.
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyebut implementasi ART juga mencakup rencana pembelian 50 unit pesawat dari Boeing. Di sektor energi, Indonesia juga membuka peluang impor minyak mentah dan gas (migas) dari AS senilai sekitar US$15 miliar atau setara Rp253 triliun per tahun. Langkah ini dinilai memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus memperdalam neraca dagang bilateral.
Rosan juga mengungkapkan tambahan MoU dengan Freeport untuk peningkatan investasi hingga 20 tahun ke depan senilai sekitar US$20 miliar, yang akan segera diproses menjadi definitive agreement.
Diplomasi Ekonomi Terpadu di AS Duta Besar RI untuk AS Indroyono Soesilo menyatakan seluruh perwakilan Indonesia di AS telah dibagi tugas sektoral. Berikut pembagian tugas perwakilan RI di AS: Washington D.C pusat koordinasi Los Angeles: pertambangan (termasuk Freeport–Arizona) San Francisco: teknologi digital dan Silicon Valley Chicago: kedelai dan gandum Midwest Houston: minyak dan gas New York: perdagangan, keuangan, investasi
Menko Airlangga menyatakan seluruh negosiasi telah rampung, meski ada tambahan sektor yang menunggu pengumuman resmi Gedung Putih. Dengan disepakatinya paket komprehensif mulai dari tarif 0%, 11 MoU bernilai US$38,4 miliar, Council permanen, hingga komitmen energi dan aviasi, maka Indonesia dan Amerika Serikat resmi memasuki fase baru hubungan ekonomi. (HT-01)










