JAKARTA, HEADLINETIMUR.COM. – Badan Pengurus Pusat Mata Garuda (BPP MG) LPDP melakukan audiensi dan silaturahmi dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Andy Artha Donny Oktopura, di ruang rapat Gedung Mina Bahari 1, KKP RI, Jakarta Pusat, Selasa (7/7/2026).
Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam implementasi program pembangunan sektor kelautan dan perikanan nasional. Hal tersebut disampaikan oleh Chief of Regional Office Mata Garuda, Amrullah Usemahu.
Dalam pertemuan strategis tersebut, Sekjen KKP didampingi oleh Kepala Biro Perencanaan, Rudi Alek Wahyudin. Sementara itu, BPP Mata Garuda menghadirkan para alumni dan awardee LPDP dari lintas keilmuan.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam arahan pembukanya, Andy Artha memberikan apresiasi tinggi kepada Mata Garuda LPDP. Sebagai komunitas intelektual muda yang telah dan sedang mengenyam pendidikan S2/S3 melalui beasiswa negara—baik di dalam maupun luar negeri—kontribusi lintas keilmuan mereka dinilai sangat krusial.
Kehadiran Mata Garuda diharapkan mampu mengambil peran nyata dalam menyukseskan pembangunan nasional, khususnya di sektor kelautan dan perikanan, sebagai wujud pengabdian kepada bangsa.
Andy menjelaskan bahwa pengelolaan sumber daya kelautan harus berlandaskan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, yaitu dikuasai oleh negara dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Kebijakan ini selaras dengan agenda Asta Cita Pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, serta pembangunan sumber daya manusia (SDM).
Lebih lanjut, Andy menyoroti tantangan peningkatan kebutuhan pangan dunia akibat pertumbuhan penduduk global yang diproyeksikan mencapai 9,7 miliar jiwa pada tahun 2050.
Di sisi lain, daya dukung sumber daya daratan kian terbatas. Oleh karena itu, sektor kelautan dan perikanan menjadi salah satu solusi utama dalam memperkuat ketahanan pangan masa depan.
Ikan, sebagai sumber protein berkualitas tinggi yang kaya akan asam lemak omega-3, memegang peran penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan kualitas SDM Indonesia.
Untuk memperkuat kontribusi sektor ini terhadap perekonomian nasional, KKP tengah menjalankan sejumlah program prioritas periode 2025–2029.
Program-program tersebut meliputi Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), Pengembangan Budidaya Ikan Darat Tematik, Revitalisasi Tambak Budidaya di Pantura Jawa, Pembangunan Kawasan Tambak Udang Terintegrasi, Modernisasi Kapal Perikanan, serta Program Swasembada Garam.
“Program Kampung Nelayan Merah Putih menjadi salah satu unggulan pemerintah. Keberhasilan implementasi di Kampung Samber Binyeri, Biak, Papua, telah membuktikan adanya peningkatan kesejahteraan nelayan melalui kenaikan pendapatan dan produksi perikanan,” ujar Andy.
Saat ini, pemerintah menargetkan pembangunan 1.369 Kampung Nelayan Merah Putih dengan pendekatan berbasis klaster yang melibatkan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai pengelola.
“Program ini diproyeksikan mampu meningkatkan produksi perikanan hingga 2,82 juta ton per tahun, menciptakan sekitar 50 ribu lapangan kerja, serta menaikkan rata-rata pendapatan nelayan menjadi sekitar Rp7,7 juta per bulan,” pungkas Andy.
Mewakili Ketua Umum Mata Garuda LPDP, Amrullah Usemahu menyampaikan bahwa audiensi ini merupakan langkah strategis untuk mendorong kolaborasi positif yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.

Terlebih, salah satu program prioritas KKP saat ini adalah Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
Amrullah menjelaskan, Mata Garuda memiliki program internal bernama “Mata Garuda Membangun Desa” (MG Membangun Desa).
Program ini dirancang sebagai platform kolaborasi alumni LPDP untuk menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat dalam mendukung pembangunan desa secara berkelanjutan.
“Dalam implementasinya, program kami memiliki keselarasan yang sangat kuat dengan Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) KKP. Saat ini, terdapat dua desa yang menjadi target pilot project program MG Membangun Desa, yaitu Desa Urbinasopen di Provinsi Papua Barat Daya dan Desa Torosiaje di Provinsi Gorontalo,” jelas Amrullah.
Menurut Amrullah, inisiasi kolaborasi ini dibangun di atas prinsip bahwa pembangunan desa tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur fisik.
Pembangunan yang ideal juga harus diiringi dengan penguatan kapasitas SDM, kelembagaan masyarakat, inovasi teknologi, serta tata kelola ekonomi lokal agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Peran Mata Garuda diorientasikan sebagai knowledge partner yang menjembatani kebutuhan masyarakat dengan inovasi, riset, teknologi, jejaring nasional maupun internasional, serta kolaborasi multipihak,” urainya.
Amrullah melanjutkan, pendampingan yang akan diberikan mencakup peningkatan kapasitas nelayan dan pembudidaya, penguatan kelembagaan Koperasi Desa Merah Putih, pelatihan pengolahan hasil perikanan, pengembangan kewirausahaan, digitalisasi pemasaran, pengelolaan energi terbarukan, hingga peningkatan kualitas pendidikan dan kepemudaan desa.
Ke depan, model kolaborasi antara Mata Garuda Membangun Desa dan Kampung Nelayan Merah Putih diharapkan dapat menjadi percontohan (role model) yang direplikasi di berbagai desa pesisir Indonesia.
Sinergi ini membuktikan bahwa pembangunan berkelanjutan membutuhkan kerja sama lintas sektor.
‘Pemerintah menyediakan arah kebijakan dan infrastruktur, sementara komunitas intelektual seperti Mata Garuda memastikan hadirnya inovasi dan penguatan kapasitas masyarakat demi kesejahteraan yang berkelanjutan dari generasi ke generasi,”pungkasnya. (HT-01)









