AMBON, HEADLINETIMUR.COM – Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Kota Ambon, Roberd Sapulette, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan peran aktif orang tua dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi Indonesia Emas 2045.
Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan pada penutupan Olimpiade Bintang Sekolah (OBS) yang diselenggarakan oleh lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel) Eduasyik di Aula BPSDM Provinsi Maluku, Sabtu (16/5/2026).
Dalam arahannya, Roberd mengajak pihak Bimbel Eduasyik untuk memperluas jangkauan kompetisi di masa mendatang dengan melibatkan peserta dari kabupaten dan kota lain di Maluku.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
“Kegiatan ini ke depan kalau bisa kita berkolaborasi. Undang juga dari kabupaten/kota yang lain untuk berkompetisi di Kota Ambon. Hal itu akan menambah pengalaman dan kesiapan personal anak-anak kita dalam menghadapi persaingan,” ujar Roberd.

Di hadapan para undangan, Roberd mengingatkan orang tua bahwa anak adalah investasi terbesar bagi masa depan. Oleh karena itu, persiapan matang harus dimulai sejak dini, termasuk dalam mendukung fasilitas belajar anak.
“Jangan pernah jemu atau mengeluh saat anak meminta uang untuk membeli buku. Percuma orang tua memiliki pangkat, jabatan, atau kekayaan, jika masa depan anak-anak justru berada di bawah standar orang tuanya saat ini,” tegasnya.
Ia menambahkan, kesuksesan anak di masa depan tidak diukur dari seberapa terkenal atau terpandangnya orang tua mereka saat ini.
“Kelak, saat anak-anak ini tampil dan sukses, orang dengan sendirinya akan bertanya siapa ayah dan ibunya. Kata kuncinya adalah investasi masa depan,” lanjut Roberd.
Lebih lanjut, Plh Sekkot Ambon ini juga menyoroti durasi waktu anak di sekolah yang terbatas. Menurutnya, tanggung jawab pendidikan tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada guru yang harus mengawasi puluhan siswa di kelas. Waktu terlama anak justru berada di dalam lingkungan keluarga.
Roberd pun mengkritik tren penggunaan gawai (gadget) yang kerap menjadi pembatas hubungan emosional antara orang tua dan anak.
“Jangan sampai di momen-momen penting, anak sibuk dengan HP-nya, papa dan mama juga sibuk dengan HP-nya. Di negara maju seperti Jepang dan beberapa negara Eropa, penggunaan media sosial bagi anak sudah dibatasi. Sementara di kita, ada tren bangga kalau anak sudah pintar pegang HP,” kritiknya.
Menutup sambutannya, Roberd mengajak seluruh elemen untuk bersinergi demi melahirkan pemimpin masa depan yang berkualitas.
“Ini adalah tanggung jawab bersama: orang tua, guru, dan pemerintah. Kita harus bersinergi mempersiapkan generasi ini untuk memasuki masa Generasi Emas 2045. Merekalah yang akan menjadi para pemimpin kelak,” pungkasnya. (HT-01)









