Krisis Iklim Maluku Nyata, Kelompok Rentan Paling Terdampak

- Penulis

Jumat, 6 Februari 2026 - 15:00 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jurnalis senior Maluku, Vonny Litamahuputty dan Pdt. Ruth Saiya berbicara tentang perubahan iklim dan dampaknya di Maluku pada diskusi bertajuk

Jurnalis senior Maluku, Vonny Litamahuputty dan Pdt. Ruth Saiya berbicara tentang perubahan iklim dan dampaknya di Maluku pada diskusi bertajuk "Katong Bacarita: Menyambung Suara Maluku Untuk Keadilan Iklim" yang diselenggarakan oleh Yayasan MADANI Berkelanjutan di Kota Ambon, Jumat (6/2/2026). (Foto : Headlinetimur.com)

AMBON, HT – Yayasan MADANI Berkelanjutan menginisiasi diskusi bertajuk “Katong Bacarita: Menyambung Suara Maluku Untuk Keadilan Iklim”. Diskusi ini digelar di salah satu kafe di Kota Ambon, Jumat (6/2/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang bagi masyarakat sipil untuk saling menguatkan, menyambungkan cerita, serta berbagi pengalaman komunitas sebagai dasar membangun suara kolektif.

Hadir dalam diskusi ini berbagai elemen, mulai dari pegiat lingkungan hingga LSM lokal dan nasional seperti Aliansi Baku Jaga Tanah dan Harmoni Alam Indonesia, YPPM Maluku, organisasi disabilitas dan media massa.

ADVERTISEMENT

ads. Ukuran gambar 480px x 600px

SCROLL TO RESUME CONTENT

Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber kompeten, yakni Pdt. Ruth Saiya dari Yayasan Arika Mahina, Jurnalis Senior Maluku, Vonny Litamahuputty, dan Sadam Afian R dari Yayasan MADANI Berkelanjutan.

Forum ini dinilai krusial mengingat karakteristik geografis Maluku yang didominasi pulau-pulau kecil. Kondisi ini menempatkan Maluku pada posisi yang sangat rentan terhadap krisis iklim dibandingkan daerah lain.

Dampaknya pun sering kali tidak merata, di mana kelompok rentan yakni masyarakat adat, nelayan, orang miskin hingga perempuan, anak hingga penyandang disabilitas menjadi pihak yang paling terdampak meski kontribusi mereka terhadap kerusakan lingkungan sangat minim.

Baca Juga :  Tinjau TPA, Wabup Malteng : Pengelolaan Sampah Harus Sistematis

Dampak Nyata di Pulau Kecil

Dalam pemaparannya, Pdt. Ruth Saiya berbagi pengalaman pendampingan terkait dampak perubahan iklim di Maluku, seperti abrasi dan kekeringan ekstrem.

“Contohnya masyarakat di Pulau Ay, Kepulauan Banda. Mereka terpaksa menggunakan air kotor dari embung untuk mencuci. Sedangkan untuk makan dan minum, mereka harus membeli air dari Banda Neira dengan jarak tempuh sekitar 45 menit menggunakan angkutan laut,” ungkapnya.

Ruth juga menyoroti banjir rob di Kepulauan Kei yang masuk hingga ke pemukiman warga pesisir meski sudah ada talud. Menurutnya, dampak turunan dari cuaca ekstrem ini sangat luas, mulai dari terbatasnya akses transportasi antar-pulau hingga kerentanan sosial.

“Terbatasnya akses perlindungan bagi korban kekerasan seksual hingga rawan kecelakaan laut juga menjadi dampak ikutan dari kondisi cuaca ekstrem ini,” tandasnya.

Baca Juga :  Adipura Hanya Bonus, Kebersihan Kota Ambon yang Utama

Dari sudut pandang media, Vonny Litamahuputty menekankan pentingnya organisasi pers di Maluku untuk berpihak pada isu lingkungan. Ia mengusulkan pembangunan ekosistem media yang berkelanjutan sebagai pelopor kesadaran masyarakat.

“Organisasi pers harus menjembatani aktivis lingkungan dan jurnalis, serta membangun jurnalisme warga dalam pengawasan lingkungan,” harapnya.

 Sadam Afian R menegaskan bahwa Rancangan Undang-Undang (RUU) Keadilan Iklim penting sebagai payung hukum untuk melindungi hak-hak masyarakat.

“Masyarakat yang paling terdampak adalah yang paling sedikit berkontribusi pada krisis iklim. Makanya, kita harus punya undang-undang yang mengatur aspek adaptasi, mitigasi, loss and damage, serta komitmen pembiayaan,” tegas Sadam.

Direktur Eksekutif MADANI Berkelanjutan, Nadia Hadad, dalam keterangan tertulisnya menjelaskan bahwa tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman dan mendorong ruang diskusi inklusif bagi jejaring masyarakat sipil.

“Ini menjadi bahan advokasi RUU Keadilan Iklim agar regulasi yang lahir benar-benar menjawab kebutuhan ekologi dan relevan dengan konteks lokal,” pungkasnya.  (HT-01)

Follow WhatsApp Channel www.headlinetimur.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wujudkan Ambon Bersih, Wali Kota Resmikan TPS Ecolife
Kadis DLHP Ambon: Gaji Buruh Sampah Terlambat karena Libur dan Kendala Teknis
Lindungi Kekayaan Alam, Pemkot Ambon Perkuat Kapasitas Satgas PPTSL
Tinjau TPA, Wabup Malteng : Pengelolaan Sampah Harus Sistematis
Adipura Hanya Bonus, Kebersihan Kota Ambon yang Utama
Penanganan Terukur, Kapolda-Kasum TNI Pantau Udara Tambang Ilegal Gunung Botak
Warga Desa Batumerah, Maluku Barat Daya Tolak Keras Konservasi Perairan Pulau Damer
Masyarakat Negeri Liang Dorong Pengakuan Hak Tenurial Pesisir dan Laut

Berita Terkait

Senin, 11 Mei 2026 - 16:18 WIT

Wujudkan Ambon Bersih, Wali Kota Resmikan TPS Ecolife

Jumat, 8 Mei 2026 - 15:34 WIT

Kadis DLHP Ambon: Gaji Buruh Sampah Terlambat karena Libur dan Kendala Teknis

Selasa, 5 Mei 2026 - 15:00 WIT

Lindungi Kekayaan Alam, Pemkot Ambon Perkuat Kapasitas Satgas PPTSL

Jumat, 24 April 2026 - 20:26 WIT

Tinjau TPA, Wabup Malteng : Pengelolaan Sampah Harus Sistematis

Kamis, 16 April 2026 - 08:54 WIT

Adipura Hanya Bonus, Kebersihan Kota Ambon yang Utama

Berita Terbaru

Hukum & Kriminal

Buron Penganiayaan Maut di Obi, Maluku Utara Diringkus di Ambon

Kamis, 14 Mei 2026 - 09:43 WIT

Hukum & Kriminal

11 WNA asal China di Gunung Botak Segera Dideportasi

Rabu, 13 Mei 2026 - 17:13 WIT