AMBON, HEADLINETIMUR.COM — Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali melanda Kecamatan Banda dan Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, sejak sepekan terakhir. Dampaknya, harga eceran BBM jenis Pertamax melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp35.000—Rp40.000 per liter.
Kondisi tersebut dikeluhkan salah seorang warga Banda, Rusandi Asdi. Melalui unggahan di media sosialnya, ia menegaskan bahwa persoalan ini harus menjadi perhatian serius pemerintah dan pihak terkait.
“Masyarakat harus membeli bensin dengan harga mencapai Rp35.000 per liter. Bahkan di lapangan berlaku sistem ‘siapa cepat, dia dapat’ karena pasokan sangat terbatas. Kondisi ini memaksa warga saling berebut demi mendapatkan kebutuhan pokok yang seharusnya tersedia secara layak,” tulis Rusandi, Jumat (24/7/2026).
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Rusandi, kelangkaan umumnya dipicu oleh gangguan distribusi pada jalur pengiriman, kendala operasional armada, atau lonjakan permintaan sesaat.
Ia menilai masalah ini seharusnya bisa diantisipasi dengan menjaga ketersediaan stok. Warga Banda, lanjutnya, bahkan tidak keberatan jika tidak menikmati BBM bersubsidi, asalkan pasokan non-subsidi tetap terjaga.
Pasalnya, kelangkaan Pertamax berpotensi melumpuhkan aktivitas warga, terutama mereka yang mata pencahariannya bergantung penuh pada bahan bakar tersebut.
“Pertalite tidak dinikmati masyarakat sama sekali. Ketika Pertamax langka dan harganya membumbung tinggi, warga kesulitan mendapatkannya. Alhasil, dapur pun tidak bisa mengepul,” tuturnya.
Ia berharap pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan instansi berwenang segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi krisis ini.
“Jangan sampai kelangkaan BBM terus berulang dan semakin membebani masyarakat, nelayan, pelaku usaha, serta melumpuhkan roda perekonomian di Kepulauan Banda,” tegas Rusandi. (HT-01)









