Ekspedisi KKP-WWF Kukuhkan MBD Benteng Terakhir Keanekaragaman Hayati Laut Dunia

- Penulis

Senin, 9 Februari 2026 - 12:52 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, HT. – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Yayasan WWF Indonesia memaparkan temuan mencengangkan dari Ekspedisi Kawasan Konservasi Kepulauan Romang dan Damer, Maluku Barat Daya (MBD) 2025.

Hasil riset selama satu bulan tersebut mengukuhkan perairan MBD sebagai benteng pertahanan terakhir keanekaragaman hayati laut dunia.

Dikutip dari website KKP, Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan, Koswara, menegaskan bahwa data ilmiah dari ekspedisi ini menjadi fondasi krusial bagi implementasi ekonomi biru.

ADVERTISEMENT

ads. Ukuran gambar 480px x 600px

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Hasil Ekspedisi Romang–Damer 2025 menjadi kontribusi penting dalam pengambilan keputusan pusat maupun daerah, dengan menempatkan masyarakat sebagai aktor utama konservasi,” ujar Koswara dalam talkshow Bincang Bahari di Jakarta, Kamis (5/2).

Salah satu temuan paling spektakuler dari ekspedisi yang berlangsung pada 3 Oktober – 3 November 2025 ini adalah keberadaan populasi Dugong dalam jumlah masif. Para peneliti berhasil menjumpai 32 ekor dugong dalam satu area sekaligus.

Baca Juga :  Ombudsman Maluku Terima 528 Aduan Masyarakat Haruku, 25 Ditindaklanjuti

Temuan ini menyingkap fakta bahwa MBD merupakan habitat dugong terbesar di Indonesia, bahkan menjadi salah satu yang langka di level global.

Kualitas perairan yang terjaga didukung oleh ekosistem lamun yang sangat sehat dengan tutupan di atas 50 persen. Tim mencatat terdapat 9 dari 14 jenis lamun Indonesia ditemukan di kawasan ini.

Selain megafauna, ekspedisi ini menemukan bahwa terumbu karang di Kepulauan Romang dan Damer memiliki resiliensi (daya tahan) yang luar biasa. Rata-rata tutupan karang mencapai 51,4 persen, jauh di atas rata-rata regional yang hanya 34 persen.

Analisis lebih mendalam mengungkap fakta sebagian koloni karang di wilayah ini diperkirakan berusia 100 hingga 200 tahun.

Ekosistem “tua” ini menjadi bukti bahwa perairan dangkal MBD mampu bertahan dari perubahan iklim ekstrem dan berfungsi sebagai daerah pemijahan ikan yang vital bagi ketahanan pangan.

*Kearifan Lokal ‘Kalwedo’ dan Sasi sebagai Penjaga Alam*

Baca Juga :  Safari Ramadhan di Luhu, Kapolda Maluku Ajak Warga Perkuat Persatuan dan Tangkal Hoaks

Keberhasilan pelestarian alam di MBD tidak lepas dari peran masyarakat adat yang memegang teguh kearifan lokal seperti Sasi dan Pemali (larangan adat).

Direktur Program Kelautan dan Perikanan WWF-Indonesia, Candhika Yusuf, menyebutkan bahwa pendekatan budaya sangat efektif menjaga ekosistem.

Namun, keajaiban alam ini kini terancam oleh aktivitas ilegal pihak luar, seperti pengeboman ikan, penggunaan racun, hingga polusi sampah plastik dan jaring hantu (ghost net).

“Kita harus memperkuat pengawasan berbasis masyarakat (Pokmaswas) agar kekayaan ini tidak hilang,” tegas Candhika.

Sebagai langkah strategis ke depan, WWF-Indonesia akan meluncurkan program sosialisasi dengan pendekatan lokal “Kalwedo”. Dalam bahasa setempat, Kalwedo mencerminkan semangat persaudaraan dan komitmen hidup harmoni dengan alam.

Dengan integrasi data ilmiah dan kekuatan adat, Maluku Barat Daya kini berdiri sebagai simbol harapan bagi masa depan laut Indonesia di tengah ancaman krisis iklim global. (HT-01)

Follow WhatsApp Channel www.headlinetimur.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bangun Parkiran di Atas Sungai Wai Tomu Mardika, Ini Alasan Kodam Pattimura
Maluku Perkuat Sektor Perikanan, Kerja Sama Perikanan RI-Tiongkok Diluncurkan di Tual
Pembangunan di Sungai Wae Tomu, Gubernur dan Wali Kota Harusnya Tegur Kodam Sejak Awal
Perkuat Layanan Korban Kekerasan, DP3A Maluku dan IPAS Indonesia Dorong Kolaborasi Lintas Sektor
Proyek Sanitasi Banda Bermasalah, DPRD Maluku Desak Kontraktor Masuk Daftar Hitam
KKP Tertibkan 37 Rumpon Ilegal di Perairan Maluku Utara
Perlindungan Perempuan dan Anak Wajib di Maluku Jadi Komitmen Daerah
Watubun: Listrik dan Telekomunikasi Penopang Layanan Warga Maluku

Berita Terkait

Minggu, 27 September 2026 - 19:55 WIT

Bangun Parkiran di Atas Sungai Wai Tomu Mardika, Ini Alasan Kodam Pattimura

Sabtu, 26 September 2026 - 17:25 WIT

Maluku Perkuat Sektor Perikanan, Kerja Sama Perikanan RI-Tiongkok Diluncurkan di Tual

Jumat, 25 September 2026 - 17:27 WIT

Perkuat Layanan Korban Kekerasan, DP3A Maluku dan IPAS Indonesia Dorong Kolaborasi Lintas Sektor

Kamis, 24 September 2026 - 17:41 WIT

Proyek Sanitasi Banda Bermasalah, DPRD Maluku Desak Kontraktor Masuk Daftar Hitam

Kamis, 24 September 2026 - 11:51 WIT

KKP Tertibkan 37 Rumpon Ilegal di Perairan Maluku Utara

Berita Terbaru

Wakil Ketua Komisi II DPRD Provinsi Maluku, Jhon Laipeny. (Foto: ISTIMEWA)

Parlemen

Laipeny: SPBU Nelayan Perlu Menjangkau Pulau-Pulau di Maluku

Sabtu, 26 Sep 2026 - 21:58 WIT