AMBON, HEADLINETIMUR.COM.– Perubahan iklim global dan ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terus membayangi ketahanan pangan di wilayah kepulauan.
Menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku melalui Dinas Ketahanan Pangan bergerak cepat memperkuat cadangan pangan serta memperketat kelancaran jalur distribusi antarpulau.
Langkah preventif ini diambil guna memastikan masyarakat di pulau-pulau kecil tetap mendapatkan bahan pokok dengan harga terjangkau, di tengah ancaman kekeringan ekstrem dan potensi gangguan transportasi akibat cuaca buruk maupun asap karhutla.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Maluku, Inawati Bin Tahir, menegaskan bahwa dampak El Nino tak sekadar mengeringkan lahan pertanian, tetapi juga berpotensi memicu gelombang kenaikan harga bahan pokok jika tidak diantisipasi sejak dini.
“Sebagai provinsi kepulauan, kelancaran distribusi antarpulau dan stabilitas harga menjadi perhatian utama kami. Keterlambatan pasokan akibat cuaca maupun gangguan transportasi dapat memicu risiko kerawanan pangan, terutama di pulau-pulau kecil,” tegas Inawati, Rabu (21/10).
Selain itu, kondisi kekeringan panjang saat ini mulai memukul sentra-sentra produksi lokal, seperti di Kabupaten Buru dan Pulau Seram. Dampak yang paling terasa adalah melonjak dan langkanya komoditas cabai di pasaran.
Guna mengatasi persoalan tersebut, Pemprov Maluku menggandeng Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku lewat skema Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP).
“Cabai lokal di sentra produksi semakin berkurang akibat musim panas berkepanjangan. Karena itu, kami berkolaborasi dengan Bank Indonesia untuk memfasilitasi distribusi dan menyuplai komoditas cabai dari luar daerah agar pasokan kembali stabil,” jelas Inawati.
Untuk menjaga stabilitas pangan secara menyeluruh, Pemprov Maluku telah merancang beberapa strategi utama, di antaranya Penguatan Cadangan Daerah untuk memastikan stok beras dan bahan pokok aman serta siap disalurkan kapan saja.
“Kemudian Gerakan Pangan Murah (GPM). Kita akan menggelar pasar murah di titik-titik rawan untuk memotong lonjakan harga,” terangnya.
Strategi lainnya yakni Pemberdayaan Pangan Lokal guna mendorong konsumsi dan produksi pangan alternatif khas Maluku seperti sagu, umbi-umbian, dan jagung agar masyarakat tidak bergantung penuh pada pasokan dari luar daerah.
Pihaknya juga merangkul Bulog, penyedia jasa transportasi laut dan udara, BPBD, BMKG, hingga Dinas Kesehatan untuk memantau titik panas (hotspot) serta mengamankan jalur pelayaran.
“Upaya lainnya yakni mitigasi transportasi untuk menjaga agar jalur logistik antarpulau tetap terbuka meski dihadapkan pada cuaca ekstrem,” paparnya.
Pemprov Maluku mengimbau seluruh masyarakat untuk bersatu menjaga stabilitas pangan serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla di lingkungan masing-masing. Langkah proaktif ini diharapkan mampu menjaga piring masyarakat Maluku tetap terisi di tengah tantangan iklim yang tak menentu. (HT-01)









