JAKARTA, HEADLINETIMUR.COM — Provinsi Maluku dipastikan tidak masuk dalam daftar penerima kucuran dana bantuan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) senilai Rp 1,235 triliun dari pemerintah pusat. Padahal, ancaman karhutla dan dampak iklim juga kerap menjadi perhatian daerah kepulauan tersebut.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono menyampaikan bahwa anggaran triliunan rupiah tersebut dialokasikan khusus untuk tujuh provinsi yang dinilai paling terdampak.
Tujuh provinsi penerima bantuan tersebut adalah Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Riau.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
“Total bantuan pemerintah pusat adalah sebesar Rp 1,235 triliun yang ditekankan oleh Bapak Presiden agar diprioritaskan pada penanganan prioritas,” kata Sugiono dalam konferensi pers di Gedung Kemenko PMK, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2026) seperti dilansir Kumparan.
Sugiono menjelaskan, penyaluran bantuan pemerintah pusat dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama telah ditransfer pada 7 September 2026, sedangkan tahap kedua disalurkan pada Kamis (22/10/2026).
Dana besar tersebut diprioritaskan untuk tiga kebutuhan utama: perlindungan masyarakat terdampak, upaya pemadaman dan penanggulangan karhutla, serta dukungan logistik bagi personel lapangan.
Pada sektor perlindungan masyarakat, dana digunakan untuk pelayanan kesehatan, pembagian masker, penyediaan oksigen portabel, fasilitas rumah oksigen, hingga penanganan pasien infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Sementara untuk operasional penanggulangan, anggaran dialokasikan untuk penambahan alat pelindung diri, pompa air, tangki air, selang pemadaman, alat suntik air khusus lahan gambut, hingga pembuatan sumur bor.
“Bantuan tersebut diharapkan dapat mempercepat penanganan tanggap darurat karhutla, membantu masyarakat terdampak semaksimal mungkin, dan merupakan wujud upaya keras pemerintah dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,” ujar Sugiono.
Saat ini, sebanyak 71.000 personel gabungan telah dikerahkan ke titik-titik kebakaran di tujuh provinsi target. Operasi pemadaman dilakukan secara masif melalui jalur darat maupun udara, termasuk water bombing dan teknologi modifikasi cuaca (TMC) menggunakan dry ice serta garam dapur (NaCl).
Sugiono menambahkan, BNPB dan BMKG terus meningkatkan efektivitas pemadaman udara, sementara Kementerian Kesehatan menyalurkan sarana pendukung medis ke wilayah terdampak parah. (HT-01/INT)









