AMBON, HEADLINETIMUR.COM – Lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel) Eduasyik secara resmi menutup Olimpiade Bintang Sekolah (OBS) tahun 2026 di Kota Ambon, Sabtu (16/5/2026).
CEO Eduasyik, M. Afif Rumbouw, menegaskan dalam sambutaanya pada kegiatan tersebut, bahwa keberhasilan akademis dan karakter anak bukan sekadar hasil kerja keras satu pihak.
Menurutnya, prestasi anak merupakan buah dari sinergi yang kokoh antara siswa, guru, dan orang tua.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang telah mendukung kelancaran kompetisi tersebut.
“Jika siswa adalah bintang, maka guru adalah matahari yang memberi cahaya pengetahuan, sedangkan orang tua adalah langit yang selalu menaungi dengan doa dan kasih sayang,” ujar Afif filosofis.
Afif menambahkan, esensi dari perlombaan ini bukan sekadar mencari pemenang, melainkan menjadi wadah untuk menumbuhkan keberanian, rasa percaya diri, dan potensi masa depan bangsa.
Ia menilai setiap anak memiliki keistimewaan dan waktu tersendiri untuk menunjukkan kilaunya.
Oleh karena itu, ia berpesan agar para pemenang tetap rendah hati, sementara bagi siswa yang belum meraih hasil terbaik untuk tidak berkecil hati.
“Menjadi juara memang membanggakan, tetapi memiliki keberanian untuk mencoba dan terus belajar adalah kemenangan yang jauh lebih besar. Setiap anak adalah bintang, dan setiap bintang akan selalu berkilau pada waktunya,” tuturnya menyemangati para peserta.
Melalui momentum Olimpiade Bintang Sekolah ini, Bimbel Eduasyik berkomitmen untuk terus menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan berfokus pada pembentukan karakter.
“Kami percaya bahwa pendidikan bukan hanya tentang nilai. Semoga ajang ini menjadi awal lahirnya generasi yang cerdas, berprestasi, berakhlak, dan mampu membawa perubahan besar bagi daerah dan bangsa,” pungkas Afif.
Pemlot Dorong Kolaborasi dan Investasi Pendidikan Anak
Sementara itu, Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Kota Ambon, Roberd Sapulette, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan peran aktif orang tua dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi Indonesia Emas 2045.

Roberd mengajak pihak lembaga Bimbel Eduasyik untuk memperluas jangkauan kompetisi di masa mendatang dengan melibatkan peserta dari kabupaten dan kota lain di Maluku.
“Kegiatan ini ke depan kalau bisa kita berkolaborasi. Undang juga dari kabupaten/kota yang lain untuk berkompetisi di Kota Ambon. Hal itu akan menambah pengalaman dan kesiapan personal anak-anak kita dalam menghadapi persaingan,” ujar Roberd.
Di hadapan para undangan yang hadir, Roberd mengingatkan para orang tua bahwa anak adalah investasi terbesar bagi masa depan. Oleh karena itu, persiapan matang harus dimulai sejak dini, termasuk dalam hal mendukung fasilitas belajar anak.
“Jangan pernah jemu atau mengeluh saat anak meminta uang untuk membeli buku. Percuma orang tua memiliki pangkat, jabatan, atau kekayaan, jika masa depan anak-anak justru berada di bawah standar orang tuanya saat ini,” tegasnya.
Ia menambahkan, kesuksesan anak di masa depan tidak diukur dari seberapa terkenal atau terpandangnya orang tua mereka saat ini.
“Kelak, saat anak-anak ini tampil dan sukses, orang dengan sendirinya akan bertanya siapa ayah dan ibunya. Kata kuncinya adalah investasi masa depan,” lanjut Roberd.
Lebih lanjut, Plh Sekkot Ambon ini juga menyoroti durasi waktu anak di sekolah yang terbatas.
Menurutnya, tanggung jawab pendidikan tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada guru yang harus mengawasi puluhan siswa di kelas. Waktu terlama anak justru berada di dalam lingkungan keluarga.
Roberd pun mengkritik tren penggunaan gawai (gadget) yang kerap menjadi pembatas hubungan emosional antara orang tua dan anak.
“Jangan sampai di momen-momen penting, anak sibuk dengan HP-nya, papa dan mama juga sibuk dengan HP-nya. Di negara maju seperti Jepang dan beberapa negara Eropa, penggunaan media sosial bagi anak sudah dibatasi. Sementara di kita, ada tren bangga kalau anak sudah pintar pegang HP,” kritiknya.
Menutup sambutannya, Roberd mengajak seluruh elemen untuk bersinergi demi melahirkan pemimpin masa depan yang berkualitas.”Ini adalah tanggung jawab bersama: Orang tua, guru, dan pemerintah. Kita harus bersinergi mempersiapkan generasi ini untuk memasuki masa Generasi Emas 2045. Merekalah yang akan menjadi para pemimpin kelak,” pungkasnya. (HT-01)









