AMBON, HEADLINETIMUR.COM – Anggota DPR RI daerah pemilihan (dapil) Maluku dari Fraksi Gerindra, Alimudin Kolatlena, menunaikan janjinya untuk menghadiri dan menyaksikan langsung puncak acara tradisi Lawa Pipi di Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Kamis (28/5/2026).
Bang Ali—sapaan akrab Alimudin Kolatlena—telah hadir sejak pagi hari di Negeri Hila. Dengan penuh antusias, ia mengikuti setiap rangkaian prosesi adat tersebut dan berbaur hangat dengan masyarakat setempat.
Bang Ali mengaku sangat senang dan bahagia karena telah diundang untuk menghadiri acara tahunan yang sakral tersebut.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya merasa bahagia bisa diundang dan hadir di tengah masyarakat Negeri Hila dalam kegiatan festival ini,” ungkapnya.

Tak sekadar hadir, Bang Ali juga menyampaikan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya kegiatan kebudayaan ini.
“Apresiasi setinggi-tingginya terhadap Festival Lawa Pipi yang merupakan agenda tahunan di Negeri Hila. Kita harus mendukung kegiatan serupa. Semoga hal ini mendapat perhatian lebih dari pemerintah untuk terus dilestarikan di masa mendatang,” tutur mantan anggota DPRD Maluku tersebut.
Mengenal Tradisi Lawa Pipi
Untuk diketahui, tradisi Lawa Pipi adalah warisan leluhur masyarakat Negeri Hila yang rutin dilaksanakan setiap perayaan Hari Raya Iduladha. Ritual ini berpusat pada arak-arakan hewan kurban keliling kampung dan mengitari masjid, yang menyerupai prosesi tawaf di Tanah Suci.
Sebelum disembelih, hewan kurban terbesar yang disebut “Kambing Temal” akan ditempatkan di barisan terdepan. Hewan ini kemudian diarak keliling desa dengan diiringi lantunan selawat dan takbir.
Menariknya, saat Kambing Temal hendak disembelih, warga akan melemparkan uang ke arah hewan tersebut.
Uang yang sebelumnya telah diusapkan ke seluruh badan ini diyakini oleh masyarakat setempat sebagai media tolak bala untuk menjauhkan diri dari marabahaya.

Uang koin dan kertas yang terkumpul selama prosesi penyembelihan nantinya akan digunakan untuk membeli rempah-rempah serta kebutuhan memasak daging kurban. Setelah matang, masakan tersebut akan dibagikan kepada warga yang kurang mampu.
Selain arak-arakan hewan kurban, beberapa perlombaan juga digelar sebagai rangkaian dari Festival Lawa Pipi yang sudah dimulai sejak 25 Mei 2026.
Kategori anak-anak berupa lomba azan, da’i cilik, samrah, baca puisi, puisi dan pidato bahasa Hila, percakapan bahasa Hila, sepeda terampil, serta sepeda listrik/hias. Sedangkan lomba hadrat untuk kategori umum.
Tradisi yang sarat akan nilai budaya dan agama ini dinilai memiliki potensi wisata yang sangat besar. Oleh karena itu terus dipromosikan, bahkan hingga ke mancanegara. (HT-01)









