HEADLINETIMUR.COM, AMBON – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis data pemantauan sebaran titik panas (hotspot) di wilayah Provinsi Maluku pada Senin (24/8/2026). Sementara itu, data Citra Satelit Google Maps mencatat 15 titik kebakaran parah di Maluku selama beberapa pekan terakhir.
Hotspot merupakan piksel pada citra satelit yang mengindikasikan suhu permukaan jauh lebih tinggi dibandingkan area sekitarnya.
Berdasarkan pemantauan empat satelit kebencanaan—Terra, Aqua, S-NPP, dan NOAA20—sejak pukul 00.00 hingga 17.00 WIB, terdeteksi total 235 titik panas yang tersebar di wilayah Kepulauan Maluku.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Dari total tersebut, BMKG mengelompokkan hotspot ke dalam tiga tingkat kepercayaan (confidence level) potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Tingkat Tinggi (indikator merah) terdeteksi 4 titik, yang memastikan adanya kejadian kebakaran nyata. Sedangkan Tingkat Sedang (indikator kuning di 209 titik, mengindikasikan kuat adanya aktivitas pembakaran.
Sementara Tingkat Rendah (indikator hijau) terdeteksi 22 titik, mengindikasikan potensi panas namun kemungkinan bukan berasal dari kebakaran lahan.
Peta sebaran menunjukkan konsentrasi titik panas tingkat sedang hingga tinggi mendominasi wilayah Pulau Buru, Pulau Seram, serta kawasan Kepulauan Tanimbar. Data ini bersumber dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang diolah BMKG sebagai peringatan dini karhutla.
15 Titik Kebakaran Parah dan Prediksi Kemarau Hingga Oktober
Sementara itu, data Citra Satelit Google Maps mencatat 15 titik kebakaran parah di Maluku selama beberapa pekan terakhir. Sebarannya meliputi Kabupaten Buru (3 titik), Buru Selatan (3 titik), Seram Bagian Timur (3 titik), Maluku Tengah (3 titik), dan Kepulauan Tanimbar (2 titik).

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa pertumbuhan awan dalam 10 hari ke depan masih minim di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Maluku. Kondisi ini membuat cuaca kering berpotensi terus berlanjut.
“Dari prediksi BMKG, musim hujan diperkirakan baru mulai datang pada pertengahan Oktober,” ujar Teuku, dikutip Kompas.com.
Masyarakat dan instansi penanggulangan bencana daerah diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, menjaga lingkungan, serta menghindari pembersihan lahan dengan cara membakar guna mencegah meluasnya karhutla. (HT-01)











