AMBON, HEADLINETIMUR.COM – Suasana penuh keakraban terlihat saat anggota DPR Republik Indonesia, Alimudin F. Kolatlena berkumpul bersama sekitar 30 pemuda di sebuah kafe di kawasan Batu Koneng, Ambon, Sabtu (23/5/2026).
Para pemuda tersebut merupakan panitia acara Tradisi Lawa Pipi, sebuah tradisi unik menyambut Iduladha di Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Mereka datang untuk bersilaturahmi sekaligus berdiskusi dengan pria yang akrab disapa Bang Ali itu.
Ketua Panitia Tradisi Lawa Pipi 2026, Kasim Asawala, membuka pembicaraan dengan memaparkan sekilas mengenai sejarah dan esensi dari tradisi tersebut.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Kasim menjelaskan bahwa Tradisi Lawa Pipi adalah warisan leluhur masyarakat Negeri Hila yang rutin dilaksanakan setiap perayaan Hari Raya Iduladha. Ritual ini berpusat pada arak-arakan hewan kurban keliling kampung dan mengitari masjid, menyerupai prosesi tawaf di Tanah Suci.

Sebelum disembelih, hewan kurban terbesar yang disebut “Kambing Temal” akan ditempatkan di barisan terdepan. Hewan ini kemudian diarak keliling desa diiringi lantunan selawat dan takbir.
Menariknya, saat Kambing Temal hendak disembelih, warga akan melemparkan uang ke arah hewan tersebut. Uang yang sebelumnya telah diusapkan ke seluruh badan ini diyakini masyarakat sebagai media tolak bala untuk menjauhkan diri dari marabahaya.
Koin dan uang kertas yang terkumpul selama prosesi penyembelihan nantinya akan digunakan untuk membeli rempah-rempah serta kebutuhan memasak daging kurban, yang hasilnya kemudian dibagikan kepada warga yang kurang mampu.
“Negeri tetangga biasanya langsung menyembelih hewan kurban setelah salat Id, sedangkan kami berbeda. Kami melaksanakan salat Id hari ini, dan besoknya baru dilakukan penyembelihan kurban,” ujar Kasim.
Tradisi yang sarat akan nilai budaya dan agama ini dinilai memiliki potensi wisata yang sangat besar. Kasim mengungkapkan bahwa promosi mengenai tradisi unik ini bahkan sudah terdengar sampai ke negeri Belanda.
Meski penentuan tanggal Iduladha yang dinamis kerap menjadi tantangan bagi wisatawan luar daerah untuk menjadwalkan kunjungan, tradisi ini selalu sukses menarik perhatian banyak orang. Selama ini, acara adat tersebut juga rutin dihadiri oleh perwakilan dari tingkat provinsi.
Oleh karena itu, panitia dan masyarakat Hila sangat berharap akan kehadiran serta keterlibatan langsung Bang Ali dalam acara adat tahun ini.
“Dengan menghadiri langsung, Bang Ali dapat menyaksikan kekayaan budaya Hila secara dekat, sekaligus bisa menjadi penyambung lidah untuk menjelaskan dan mempromosikan tradisi unik ini di tingkat nasional maupun internasional,” pungkas Kasim.
Berpartisipasi dan Siap Menyaksikan Langsung
Mendengar pemaparan mendalam dari panitia, Bang Ali menyatakan kesiapannya untuk berpartisipasi dan mendukung penuh pelaksanaan Tradisi Lawapipi di Negeri Hila.

“Yang pasti, kami ikut berpartisipasi dan mendukung kegiatan tahunan tersebut, baik secara moril maupun materil,” tegas Bang Ali.
Mantan anggota DPRD Provinsi Maluku tersebut juga menyampaikan kesediaannya untuk hadir langsung pada Tradisi Lawapipi yang dijadwalkan berlangsung pada 25 hingga 28 Mei mendatang.
Menurut Bang Ali, kegiatan apa pun yang dilaksanakan di sebuah negeri (desa/kampung) harus mendapat dukungan dari seluruh elemen masyarakat agar bisa sukses.
Bagi dirinya, kehadiran sekitar 30 orang panitia dalam agenda silaturahmi ini sudah menjadi bukti nyata adanya komitmen dan soliditas masyarakat Negeri Hila demi kelancaran acara.
Bang Ali kemudian mencontohkan pengalamannya beberapa bulan lalu saat menghadiri penutupan turnamen voli di Lisabata, Kabupaten Seram Bagian Barat.
Di sana, hampir seluruh warga terlibat aktif sebagai panitia sehingga acara berjalan dengan sangat lancar dan sukses.
Hal serupa diyakininya juga akan terjadi pada Tradisi Lawapipi di Negeri Hila berkat dukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat setempat.Di akhir pertemuan, Bang Ali berharap hubungan silaturahmi dan komunikasi yang baik antara dirinya dan masyarakat Negeri Hila dapat terus terjaga erat ke depannya. (HT-01)









