AMBON, HEADLINETIMUR.COM – Rektor Universitas Pattimura (Unpatti), Prof. Fredy Leiwakabessy, menegaskan pentingnya penguatan kolaborasi antarperguruan tinggi melalui pembentukan konsorsium.
Langkah strategis ini diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan nasional secara lebih efektif.
Pernyataan tersebut disampaikan Rektor saat menerima kunjungan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) RI, Prof. Dr. Fauzan, pada Kamis (30/4) di Ruang Kerja Rektor Unpatti.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan bahwa semangat kolaborasi dan sinergi merupakan kunci utama untuk meningkatkan kontribusi kampus terhadap masyarakat.
Ia menekankan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga harus hadir sebagai pemberi solusi atas persoalan sosial, ekonomi, dan pembangunan di daerah.
“Pembentukan konsorsium adalah langkah strategis untuk menyatukan kekuatan akademik lintas institusi dalam satu kerangka kerja bersama,” ujar Prof. Fredy.

Gagasan ini terinspirasi dari keberhasilan praktik serupa di wilayah lain, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), yang sukses membangun sinergi antara akademisi dan pemerintah daerah.
Melalui konsorsium ini, Unpatti ingin merumuskan konsep kolaborasi yang lebih terarah, mencakup penguatan peran dosen, penelitian, hingga pengabdian masyarakat yang berbasis pada potensi riil daerah.
Riset Harus Berdampak Nyata
Senada dengan hal tersebut, Wamen Diktisaintek, Prof. Fauzan, menekankan bahwa perguruan tinggi wajib menjadi pusat solusi berbasis riset dan data.
Tantangan besar seperti kemiskinan, stunting, dan keterbatasan layanan dasar memerlukan pendekatan kolaboratif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Wamen mencontohkan praktik baik di NTT, di mana mahasiswa dan dosen lintas disiplin terjun langsung ke daerah dengan angka stunting tinggi untuk melakukan pendampingan.
Beliau juga mendorong agar karya ilmiah mahasiswa—baik skripsi, tesis, maupun disertasi—diarahkan untuk menjawab persoalan nyata di lapangan.
“Ke depan, program riset dan pengabdian masyarakat akan semakin diarahkan pada basis kolaborasi. Dengan demikian, hasilnya tidak hanya bersifat akademis di atas kertas, tetapi memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tegas Wamen.
Lebih lanjut, Prof. Fauzan menggarisbawahi pentingnya integrasi data antarlembaga sebagai fondasi perencanaan pembangunan. Tanpa dukungan data yang akurat, kebijakan pemerintah sulit untuk tepat sasaran.
Kunjungan ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem kolaborasi di kawasan timur Indonesia.
Diharapkan, perguruan tinggi mampu menjadi motor penggerak perubahan yang tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga melahirkan inovasi konkret.
“Perguruan tinggi harus menjadi motor penggerak perubahan. Kita tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menghadirkan solusi,” tutup Wamen.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi mengenai “Arah Kebijakan, Strategi, dan Peran Perguruan Tinggi Maluku dalam Pengembangan Kampus Berdampak”. (HT-01)








