AMBON, HEADLINETIMUR.COM. — Di usianya yang ke-81 tahun, kemerdekaan Republik Indonesia ternyata belum dirasakan sepenuhnya oleh warga Desa Hukuanakota, Kecamatan Inamosol, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).
Hingga saat ini, masyarakat setempat masih harus memikul orang sakit berjalan kaki menuju Puskesmas serta kesulitan mengangkut hasil bumi akibat infrastruktur jalan yang memprihatinkan.
Salah seorang warga Desa Hukuanakota, Milton Lumamuly, mengungkapkan kekecewaannya terkait kondisi akses jalan berstatus jalan kabupaten yang menghubungkan Desa Honitetu dan Kecamatan Inamosol sepanjang 9 kilometer tersebut.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Dari total panjang jalan, baru sekitar 2 kilometer yang ditumpangi aspal, sementara 7 kilometer sisanya masih berupa jalan tanah dan rusak parah.
“Kami masyarakat hanya berharap sisa 7 kilometer ini diselesaikan hingga masuk ke kampung. Itu saja kami sudah sangat senang. Bapak Bupati dan para anggota legislatif, tolong lihat kesengsaraan kami. Sampai kapan kami harus begini? Kami ini bagian dari NKRI dan memiliki hak yang sama,” ujar Milton.
Teriakan Bisu dari Pegunungan Inamosol
Kondisi pilu ini juga disuarakan oleh warga SBB lainnya, Gerald Wakano. Ia menggambarkan perjuangan berat warga yang harus bertaruh nyawa menembus jalan rusak demi menyelamatkan sesama.
“Di bawah terik matahari dan cuaca tak menentu, sekelompok pria memikul nyawa saudara mereka. Langkah demi langkah melewati jalan hancur dan lumpur tebal. Ini bukan karnaval, ini darurat! Ini teriakan bisu masyarakat yang dipaksa berjalan kaki karena janji infrastruktur hanyalah fatamorgana,” tutur Gerald.

Gerald menyentil keras para wakil rakyat—mulai dari DPD, DPRD Kabupaten, Provinsi, hingga DPR RI—serta Pemerintah Daerah SBB yang dinilai mengabaikan nasib masyarakat pegunungan setelah masa kampanye usai.
Janji perbaikan infrastruktur dan kesejahteraan warga dinilai hanya menjadi “mimpi di siang bolong” yang lenyap setelah kursi kekuasaan diduduki.
Momen warga memikul pasien dengan infus menancap di tangan hingga mencapai mobil menjadi bukti nyata betapa minimnya perhatian pemerintah.
Menurut Gerald, masyarakat tidak meminta kemewahan, melainkan akses jalan layak agar fasilitas medis seperti ambulans bisa menjangkau desa mereka.
“Masyarakat Hukuanakota tidak meminta istana. Kami hanya meminta jalan yang layak agar saat sakit, kami ditolong oleh ambulans, bukan diusung di atas punggung saudara kami yang lelah. Jangan jadikan infrastruktur sekadar angka di laporan anggaran, tetapi wujudkan secara nyata di lapangan,” tegasnya. (HT-01)









