AMBON, HEADLINETIMUR.COM. — Sejumlah komunitas, organisasi masyarakat sipil, dan penyelam yang aktif melakukan rehabilitasi terumbu karang di Maluku berkumpul untuk berdiskusi, bertukar pengalaman, serta membagikan pembelajaran terkait upaya pemulihan ekosistem laut.
Kegiatan yang dikemas dalam forum “Bacarita Rawat Terumbu Karang Maluku” ini diinisiasi oleh Coral Triangle Center (CTC) bersama JALA INA di Ambon pada Sabtu (1/8). Pertemuan ini menjadi wadah penting untuk menghubungkan berbagai inisiatif rehabilitasi karang di Maluku yang selama ini berjalan secara mandiri dan belum saling terhubung.
Terumbu karang di wilayah Maluku saat ini menghadapi tekanan berat akibat krisis iklim serta praktik perikanan destruktif, seperti penggunaan bom dan bahan beracun.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Di sisi lain, beragam komunitas telah bergerak melakukan pemulihan dengan berbagai metode. Namun, banyak dari pengalaman lapangan tersebut belum terdokumentasi dengan baik maupun dipertukarkan sebagai pembelajaran bersama.
Purwanto, Maluku Portfolio Manager CTC, menekankan pentingnya berbagi pembelajaran, berjejaring, dan berkolaborasi antarorganisasi agar upaya rehabilitasi karang dapat memberikan hasil yang optimal.
Sementara itu, JALA INA menilai rehabilitasi terumbu karang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat pesisir. Karang bukan sekadar bagian dari ekosistem laut, melainkan penopang utama ruang hidup dan sumber penghidupan warga.
“Terumbu karang adalah tempat hidup. Karena itu, ketika kita berbicara tentang merawat terumbu karang, kita juga sedang berbicara tentang menjaga ruang hidup masyarakat pesisir,” ujar Muhammad Yusuf Sangadji, Direktur Eksekutif JALA INA.

Dalam forum tersebut, berbagai kelompok membagikan pengalaman rehabilitasi dengan karakteristik lingkungan dan pendekatan yang beragam:
Zainal Harun Renuat dari Bupolo Reef Konservasi, membagikan pengalaman penggunaan metode sederhana dan terjangkau di Pantai Jikumarasa. Mereka telah menanam sekitar 750 fragmen karang menggunakan media spider web serta 1.200 fragmen melalui teknik direct planting.
Metode ini dipilih agar masyarakat dan nelayan lokal dapat melakukan perawatan serta pemantauan secara mandiri tanpa bergantung pada peralatan mahal.
Di Negeri Lima dan sekitarnya, komunitas pemuda bernama Pele Pesisir, telah menurunkan sekitar 516–526 unit terumbu buatan. Hasil pemantauan menunjukkan mulai bermunculannya biota laut seperti bulu babi dan ikan karang di sekitar struktur tersebut.
Sementara di Halong, Kota Ambon,
rehabilitasi menerapkan teknologi Biorock yang memanfaatkan arus listrik bertegangan rendah untuk mempercepat proses akresi mineral. Metode ini terbukti mempercepat pertumbuhan karang, tetapi memerlukan biaya tinggi serta pasokan listrik yang stabil.
Sedangkan Komunitas Penyelam Matasiri di Pelauw, Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah mengombinasikan beberapa jenis media, mulai dari balok beton, struktur menyerupai keranda, hingga model “payung” berbahan pipa besi.
Salah satu metodenya mencatatkan tingkat pertumbuhan fragmen yang cukup tinggi dalam kurun waktu satu tahun.
Moluccas Coastal Care (MCC) di Rutong, menghadapi tantangan perairan terbuka yang berhadapan langsung dengan Laut Banda.
Arus dan gelombang kuat—terutama pada musim timur—menunjukkan bahwa metode yang berhasil di wilayah teluk belum tentu cocok diterapkan di perairan yang bergelombang tinggi.
Beragam pengalaman ini membuktikan bahwa tidak ada satu metode tunggal yang bisa diterapkan secara seragam di seluruh Maluku. Arus, gelombang, jenis karang, kedalaman, karakter dasar perairan, hingga kapasitas komunitas dalam pemantauan menjadi faktor kunci keberhasilan.
Pelibatan Masyarakat dan Tantangan Ke Depan
Selain aspek teknis, para peserta menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat pesisir secara utuh—sejak tahap perencanaan, penentuan lokasi, pelaksanaan, hingga pemantauan. Pembelajaran ini salah satunya dipetik dari pengalaman rehabilitasi di Pulau Bair.
“Masyarakat harus dilibatkan sejak awal perencanaan karena ini berkaitan langsung dengan ruang hidup mereka. Dengan begitu, program pemulihan tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial jangka pendek,” tegas Achmad Munir Wael dari Komunitas Malesi, Negeri Liang.
Sebaran aksi rehabilitasi karang di Maluku saat ini telah menjangkau berbagai titik, seperti Negeri Lima, Ureng, Asilulu, Negeri Liang, Hila, Haruku, Pelauw, Halong, Desa Sole, Pulau Pombo, hingga Pulau Gunung Api Banda. Pengetahuan lokal ini berpotensi besar jika direplikasi dan dikembangkan bersama.
Dalam diskusi tersebut, para peserta mengidentifikasi sejumlah kebutuhan mendesak, antara lain peningkatan kapasitas dan pelatihan teknis, pendampingan masyarakat umum dan masyarakat adat, pertukaran pengetahuan antargenerasi, penguatan sistem pemantauan (monitoring) dan dokumentasi.
Peserta juga sepakat bahwa rehabilitasi harus berjalan seiring dengan upaya menghentikan sumber kerusakan.
Oleh karena itu, edukasi masyarakat, pengawasan kawasan, pembentukan kelompok pengawas lokal, penggunaan alat tangkap ramah lingkungan, hingga penyusunan kesepakatan adat/lokal menjadi benteng utama perlindungan ekosistem laut.
Forum “Bacarita Rawat Terumbu Karang Maluku” mendorong terbentuknya jaringan komunikasi antar-komunitas.
Sebagai langkah awal, para peserta sepakat untuk membangun ruang komunikasi bersama untuk bertukar informasi, membagikan data pemantauan, berkonsultasi mengenai kendala teknis, serta membuka peluang aksi bersama.
Melalui ruang kolaborasi ini, gerakan pemulihan terumbu karang di Maluku diharapkan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi upaya terpadu yang terukur, berkelanjutan, dan berakar kuat pada peran masyarakat setempat. (HT-01)









