AMBON, HEADLINETIMUR.COM.— Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Maluku mengeluarkan surat himbauan kewaspadaan terkait potensi dampak perkembangan musim kemarau dan fenomena El Niño kategori kuat yang diprediksi berlanjut hingga sangat kuat pada tahun 2026.
Berdasarkan analisis dan pemutakhiran data iklim dasarian III Juli 2026, seluruh wilayah Provinsi Maluku saat ini telah resmi memasuki musim kemarau. BMKG memprediksi puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Maluku akan terjadi pada September 2026.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas III Maluku, Makhfu Hidayat, menyampaikan bahwa durasi musim kemarau tahun ini diprakirakan bakal lebih panjang hingga lebih dari tiga dasarian dibandingkan rata-rata iklim normal (1991–2020), dengan sifat hujan didominasi kategori Bawah Normal atau lebih kering.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
“Anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 periode Mei–Juli 2026 menunjukkan nilai 1,59 yang menandakan status El Niño Kuat, dan berpeluang meningkat menjadi El Niño Sangat Kuat. Selain itu, indeks Dipole Mode Index (DMI) berpotensi menuju fase IOD Positif pada rentang September hingga Desember 2026,” ujar Makhfu Hidayat dalam keterangan tertulisnya, Selasa (4/8/2026).
BMKG juga mencatat monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) di Maluku bervariasi mulai dari kategori sangat pendek (1–5 hari) hingga sangat panjang (31–60 hari). HTH terpanjang tercatat berada di Stasiun Meteorologi Kuffar Geser, Kabupaten Seram Bagian Timur, yang mencapai 53 hari tanpa hujan.
Curah hujan selama bulan Agustus hingga Oktober 2026 diprediksi akan terus berada pada kategori rendah (0–100 mm/bulan) di sebagian besar wilayah Maluku.
Rekomendasi Mitigasi untuk Pemda dan Masyarakat
Menyikapi kondisi iklim yang kian ekstrem, BMKG memberikan sejumlah rekomendasi strategis kepada Pemprov Maluku, Pemerintah Kabupaten/Kota, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta instansi terkait untuk melakukan langkah antisipasi.

Pada sektor pangan dan pertanian, para petani diimbau menyesuaikan jadwal tanam serta beralih ke varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan, hemat air, dan memiliki siklus panen pendek.
Pemda dan pihak terkait juga diminta mempercepat revitalisasi waduk, memperbaiki jaringan distribusi air bersih, serta memantau kapasitas air bendungan demi menjaga pasokan operasional PLTA.
Selain itu, untuk kesehatan dan lingkungan, Pemda diminta menyiapkan mekanisme respons cepat terhadap penurunan kualitas udara yang berpotensi memicu penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
BMKG juga mendorong kesiapsiagaan seluruh jajaran BPBD dan dinas terkait terhadap potensi kekeringan serta ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Mengimbau nelayan untuk memanfaatkan fenomena upwelling (pemberkahan nutrisi laut) serta memantau Zona Potensial Penangkapan Ikan (ZPPI) melalui laman resmi BMKG (maritim.bmkg.go.id/inawis).
“Pelayaran lokal dan nelayan juga diingatkan untuk selalu mengecek pemutakhiran cuaca laut sebelum melaut,” pungkas Hidayat.
Surat himbauan ini telah ditembuskan kepada Gubernur Provinsi Maluku, para Bupati/Wali Kota se-Provinsi Maluku, BPBD, Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan, serta instansi teknis terkait lainnya guna mempercepat langkah mitigasi di wilayah masing-masing. (HT-01)









