AMBON, HEADLINETIMUR.COM — Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi⁺) milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Manggala Agni mendeteksi maraknya kemunculan titik panas (hotspot) di wilayah Provinsi Maluku.
Berdasarkan pemantauan data satelit selama 24 jam terakhir pada Senin (24/8/2026) pukul 17.00 WIT atau 19.00 WIT, tercatat ratusan titik panas tersebar dengan tingkat kepercayaan (confidence level) yang bervariasi.
Berdasarkan akumulasi data dari tiga instrumen satelit pemantau, mayoritas titik panas berada pada tingkat kepercayaan sedang (medium). Satelit NASA-NOAA20 mendeteksi jumlah hotspot tertinggi, yaitu sebanyak 256 titik yang terdiri dari 6 titik berkejenuhan rendah (low), 246 titik berkejenuhan sedang (medium), dan 4 titik berkejenuhan tinggi (high).
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, Satelit NASA-SNPP mencatat total 227 titik panas dengan rincian 16 titik berkepercayaan rendah dan 211 titik berkepercayaan sedang. Adapun Satelit NASA-TERRA/AQUA mendeteksi 2 titik panas yang seluruhnya berada pada tingkat kepercayaan sedang.
Secara keseluruhan, indikasi titik panas dengan tingkat kejenuhan tinggi (high confidence) terdeteksi sebanyak 4 titik melalui pemantauan Satelit NASA-NOAA20.
Area dengan tingkat kepercayaan tinggi ini menjadi prioritas utama pengecekan lapangan oleh tim satgas dan Manggala Agni untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) agar tidak meluas.
Pihak berwenang mengimbau seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan di wilayah Maluku untuk meningkatkan kewaspadaan, menghindari praktik pembakaran lahan secara sembarangan, serta segera melaporkan jika menemukan potensi titik api di lingkungannya.
Sementara itu, AMBON – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis data pemantauan sebaran titik panas (hotspot) di wilayah Provinsi Maluku pada Senin (24/8/2026).
Berdasarkan pemantauan empat satelit kebencanaan—Terra, Aqua, S-NPP, dan NOAA20—sejak pukul 00.00 hingga 17.00 WIB, terdeteksi total 235 titik panas yang tersebar di wilayah Kepulauan Maluku.
Peta sebaran menunjukkan konsentrasi titik panas tingkat sedang hingga tinggi mendominasi wilayah Pulau Buru, Pulau Seram, serta kawasan Kepulauan Tanimbar. Data ini bersumber dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang diolah BMKG sebagai peringatan dini karhutla.
Sedangkan data Citra Satelit Google Maps mencatat 15 titik kebakaran parah di Maluku selama beberapa pekan terakhir. Sebarannya meliputi Kabupaten Buru (3 titik), Buru Selatan (3 titik), Seram Bagian Timur (3 titik), Maluku Tengah (3 titik), dan Kepulauan Tanimbar (2 titik).
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa pertumbuhan awan dalam 10 hari ke depan masih minim di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Maluku. Kondisi ini membuat cuaca kering berpotensi terus berlanjut.
“Dari prediksi BMKG, musim hujan diperkirakan baru mulai datang pada pertengahan Oktober,” ujar Teuku, dikutiip Kompas.com. (HT-01)











