AMBON, HEADLINETIMUR.COM — Rektor Universitas Muhammadiyah Maluku (UM Maluku), Prof. Faris Al-Fadhat, Ph.D., menjadi salah satu panelis dalam Masterclass and Roundtable Discussion bersama mantan Menteri Perdagangan RI, Gita Wirjawan, di Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Kamis (13/8/2026).
Forum yang merupakan rangkaian Dies Natalis ke-61 UAJY tersebut membahas masa depan serta posisi strategis Asia Tenggara di tengah dinamika geopolitik, ekonomi, teknologi, dan tata kelola global. Diskusi ini berpatokan pada pemikiran dalam buku terbaru Gita, What It Takes: Southeast Asia.
Dalam sesi masterclass, Gita mengajak peserta memahami perjalanan panjang kawasan, mulai dari kedatangan Portugis di Malaka pada 1511 hingga perkembangan kekuatan regional dan global saat ini.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menekankan pentingnya negara-negara Asia Tenggara menjaga keseimbangan (equilibrium) dalam berhubungan dengan kekuatan Barat dan Tiongkok. Keseimbangan ini dinilai krusial agar kawasan memiliki ruang memperkuat kapasitas internal dan keluar dari kondisi mediokritas.

Diskusi dilanjutkan melalui sesi roundtable bersama enam akademisi lintas disiplin. Prof. Faris menyampaikan perspektif Hubungan Internasional terkait posisi Asia Tenggara dalam tatanan global.
Menurutnya, potensi geografis dan ekonomi yang strategis belum sepenuhnya diimbangi kemampuan kawasan untuk memengaruhi arah perubahan politik dunia.
“Asia Tenggara tidak cukup hanya menjadi arena strategis pertemuan kekuatan besar. Tantangannya adalah bagaimana kawasan ini membangun kapasitas (agency) untuk ikut membentuk arah perubahan tatanan global,” ujar Faris.
Ia menambahkan, meski ASEAN memiliki modal berupa stabilitas kawasan dan ASEAN Centrality, dinamika relasi AS-Tiongkok, ekspansi BRICS+, serta pergeseran ekonomi-politik global menuntut ASEAN bergerak lebih jauh dari sekadar mempertahankan keseimbangan.
Faris juga menempatkan buku Gita dalam tiga rangkaian pemikiran penting tentang kawasan:
The ASEAN Miracle (Kishore Mahbubani & Jeffery Sng): Mengulas keberhasilan ASEAN menjaga perdamaian di tengah keberagaman.
Does ASEAN Matter? (Marty Natalegawa): Mempertanyakan relevansi ASEAN menghadapi perubahan dunia.
What It Takes: Southeast Asia (Gita Wirjawan): Menjawab kapasitas apa yang harus dibangun agar Asia Tenggara mampu maju dan berperan lebih besar.
Selain Faris, roundtable menghadirkan Rektor UAJY Dr. G. Sri Nurhartanto, Prof. Gregoria Arum Yudarwati, Dr. Norma Sari, Prof. Aloysius Gunadi Brata, serta Prof. Ir. A. Djoko Budiyanto. Acara yang dipandu Wakil Dekan FISIP UAJY, Desideria Cempaka Wijaya Murti, Ph.D., ini membedah isu geopolitik, hukum internasional, komunikasi strategis, ekonomi pembangunan, hingga kecerdasan buatan.
Keterlibatan Rektor UM Maluku dalam forum ini menjadi langkah strategis universitas untuk memperluas jejaring akademik sekaligus menyuarakan perspektif Indonesia Timur di kancah nasional dan global.
“UM Maluku sedang bertumbuh. Namun sejak awal, kami ingin membangun tradisi bahwa kampus di Maluku juga hadir dalam percakapan penting mengenai masa depan Indonesia, Asia Tenggara, dan dunia,” pungkas Faris. (HT-01)









